Angka dan Bilangan

Angka merupakan hal dasar yang dipakai dalam matematika. Secara sederhana, angka adalah simbol atau lambang yang kita gunakan untuk mewakili suatu bilangan. mari kita mulai perjalanan kita dalam belajar matematika dengan mengenal angka.

Integer atau Bilangan Bulat

Integer atau bilangan bulat merupakan jenis bilangan yang tidak memiliki bagian desimal atau pecahan. Bilangan bulat sering kita jumpai sehari-hari yaitu:

1,2,3,4,...,1, 2, 3, 4,…,

Bilangan di atas dinamakan integer positif atau bilangan bulat positif. Bahkan untuk melakukan perhitungan, kita memerlukan satu angka yang lain yakni:

0 (nol)0 \text{ (nol)}

Sebagai contoh, kita akan menghitung jumlah jawaban yang benar dari 100 pertanyaan saat ujian. Jika semua jawaban benar, maka kita mendapat nilai 100 sedangkan jika mendapat nila 0, maka tidak ada satupun jawaban kita yang benar.

Integer positif atau bilangan positif dan nol juga dapat diwakili secara geometris dengan garis seperti halnya sebuah penggaris.

Adapun himpunan bilangan yang terdiri dari bilangan integer positif dan nol disebut bilangan natural. Bilangan natural ini dapat dipakai dalam keseharian misalkan dalam menghitung jarak seperti dengan menggunakan penggaris. Secara definisi, titik yang mewakili angka 0 disebut bilangan asal atau origin.

Bilangan natural juga dapat dipakai untuk mengukur hal lainnya. Sebagai contoh termometer yang seperti layaknya penggaris untuk megukur suhu atau temperatur. Akan tetapi, termometer menunjukan jenis angka lain selain bilangan natural karena suhu dapat turun sampai di bawah angka 0. Angka ini disebut bilangan integer negatif atau bilangan bulat negatif seperti minus 1, minus 2, minus 3, …, yang ditulis dengan lambang berikut:

1,2,3,4,....-1, -2, -3, -4, ….

Dalam garis, bilangan integer negatif diwakili garis disebelah angka 0, di sisi lain dari bilangan integer positif.

Himpunan bilangan integer negatif, integer positif, dan nol disebut integer.

Selain mewakili jarak, jumlah, atau suhu, kita juga dapat melakukan operasi bilangan pada angka seperti penambahan, pengurangan, dan lain sebagainya.

Dalam penambahan dengan bilangan integer positif misalkan menambahkan angka 7 terhadap angka lain misalkan 4, maka kita menggeser ke arah kanan 7 satuan dari angka tersebut sehingga:

4+7=114 + 7 = 11

Tujuh unit ke kanan dari angka 4 adalah 11. Adapun penambahan angka 0 tidak mengubah hasil dari penambahan dari angka asal sehingga:

0+a=a+0=a0 + a = a + 0 = a

Bagaimana dengan penambahan bilangan negatif? Misalkan pada termometer suhu sekarang 10° kemudian suhu turun 15°, maka suhu yang baru adalah 5°-5°, dan pada persamaan dapat kita tulis:

1015=510-15=-5

Dengan demikian dapat kita katakan bahwa 5-5 adalah hasil pengurangan 15 dari 10 atau dengan menambahkan 15-15 ke 10.

Dari sisi titik pada garis, menambahkan angka negatif misalkan 3-3 pada angka lainnya berarti bergeser 3 unit ke arah kiri dari angka tersebut. Sebagai contoh

5+(3)=25+(-3)=2

Artinya dimulai dari 5 dan bergeser 3 unit ke kiri sehingga hasilnya 2. Begitu juga dengan

7+(3)=4, dan 3+(5)=27+(-3)=4, \text{ dan } 3+(-5)=-2

Demikian juga kita mendapatkan

3+(3)=0, dan 5+(5)=03+(-3)=0, \text{ dan } 5+(-5)=0

Kita juga bisa menuliskan persamaan di atas dengan

(3)+3=0, dan (5)+5=0(-3)+3=0, \text{ dan } (-5)+5=0

Oleh sebab itu kita mendapatkan sifat dan persamaan umum yaitu:

a+()=0, dan juga a+a=0a+(-)=0,\text{ dan juga } -a+a=0

Jika kita terapkan pada garis atau penggaris, akan terlihat bahwa aa dan a-a berada di sisi yang berlawanan dengan 0 di tengahnya sebagaimana gambar di bawah ini

Karena itu, kita juga sekarang dapat menulis

3=(3) atau 5=(5)3=-(-3) \text{ atau } 5=-(-5)

Dari persamaan di atas, gambarnya adalah sebagai berikut

Dikarenakan sifat

a+(a)=0a+(-a)=0

makan kita bisa menyebut a-a adalah additive inverse dari aa.

Aturan untuk Penjumlahan Bilangan Bulat/Integer

Integer memiliki aturan yang sangat sederhana untuk operasi penjumlahan. Aturan tersebut adalah:

Komutatif. Jika a,ba, b adalah integer, maka

a+b=b+aa+b=b+a

Contohnya:

4+5=5+4=94+5=5+4=9

atau jika menggunakan bilangan negatif, kita memperoleh

2+5=3=5+(2)-2+5=3=5+(-2)

Asosiatif. Jika a,b,ca, b, c adalah integer, maka

(a+b)+c=a+(b+c)(a+b)+c=a+(b+c)

Karena adanya sifat ini, penggunaan tanda kurung menjadi tidak perlu sehingga kiat cukup menulisnya:

a+b+ca+b+c

Sebagai contoh

(3+5)+9=8+9=17,(3+5)+9=8+9=17,
3+(5+9)=2+14=17.3+(5+9)=2+14=17.

Kita dapat menulis langsung seperti ini:

3+5+9=173+5+9=17

Sifat asosiatif juga berlaku pada bi;angan negatif, sebagai contoh:

(2+5)+4=3+4=7,(-2+5)+4=3+4=7,
2+(5+4)=2+9=7.-2+(5+4)=-2+9=7.

Demikian juga,

(2+(5))+(3)=3+(3)=6,(2+(-5))+(-3)=-3+(-3)=-6,
2+(5+(3))=2+(8)=6.2+(-5+(-3))=2+(-8)=-6.

Aturan penambahan yang disebut di atas tidak dibuktikan. Akan tetapi kita bisa membuktikan aturan lainnya dengan aturan penambahan di atas.

Sebagai permulaan, kita lihat sebagai berikut:

Jika a+b=0, maka b=a dan a=b.\text{Jika } a+b=0, \text{ maka } b=-a \text{ dan } a=-b.

Untuk membuktikan hal tersebut, tambahkan a-a di kedua sisi dari persamaan a+b=0.a+b=0. Setelah itu kita dapatkan

a+a+b=a+0=a-a+a+b=-a+0=-a

Dikarenakan a+a+b=0+b=b,-a+a+b=0+b=b,maka kita dapatkan

b=ab=-a

Begitu juga kita menemukan b=ab=-a. Kita juga bisa berkesimpulan bahwa

b=(a)=a-b=-(-a)=a

Sebagaimana untuk menyederhanakan, kita menuliskan

aba-b

daripada ditulis dengan

a+(b)a+(-b)

Dengan menggabungkan ketiga sifat penambahan tadi dapat kita tulis dengan berbagai cara seperti berikut:

(ab)+c=(a+(b))+c=a+(b+c)dengan sifat asosiatif=a+(cb)dengan komutatif=(a+c)bdengan asosiatif,\begin{aligned} (a – b) + c &= (a + (-b)) + c \\ &= a + (-b + c) && \text{dengan sifat asosiatif} \\ &= a + (c – b) && \text{dengan komutatif} \\ &= (a + c) – b && \text{dengan asosiatif,} \end{aligned}

dan kita dapat menulisnya sebagai berikut

ab+c=a+cb,a-b+c=a+c-b,

dengan menghilangkan semua tanda kurung.

Sebagaimana turunan dari Jika a+b=0, maka b=a dan a=b,\text{Jika } a+b=0, \text{ maka } b=-a \text{ dan } a=-b,maka

a=(a).a=-(-a).

Hal ini benar karena

a+(a)=0a+(-a)=0

Persamaan di atas juga dapat diaplikasikan dengan b=ab=-a, dan berlaku baik aa itu positif, negatif, atau nol. Jika aa positif maka a-a adalah negatif serta sebaliknya jika aa negatif maka a-a adalah positif. Pada penggambaran secara geometris, aa dan a-a berada di tempat yang simetris diantara kedua sisi dari angka 00. Tentu saja kita juga dapat menumpuk tanda minus dan mendapatkan relasi lainnya seperti

3=((3)),-3=-(-(-3)),

atau

3=(3)=(((3))).3=-(-3)=-(-(-(-3))).

Sehingga jika kita tumpukan minus di depan aa, kita bisa mendapatkan aa atau a-a secara bergantian.

Oleh sebab itu kita mendapat aturan operasional selanjutnya yakni

(a+b)=a+(b)-(a+b)=-a+(-b)

atau bisa ditulis

(a+b)=ab-(a+b)=-a-b

Kita bisa mengutak-atik persamaan dengan sifat penambahan di atas. Misalkan ada tiga angka dengan hubungan sebagai berikut

a+b=ca+b=c

Dengan menambahkan b-b pada kedua sisi, maka kita akan mendapat

a+bb=cba+b-b=c-b

Dikarenakan a+0=bca+0=b-c, maka kita dapatkan

a=cba=c-b

Begitu juga kita bisa mendapatkan

b=cab=c-a

Penerapannya adalah sebagai berikut

x+3=5,x+3=5,

maka

x=53=2.x=5-3=2.

Begitu juga jika

4a=34-a=3

Kemudian dengan menambahkan aa di kedua sisi kita mendapatkan

4=3+a,4=3+a,

lalu jika kita mengurangi 3 di kedua sisi kita dapatkan

43=33+a4-3=3-3+a

Sehingga

1=a1=a

Contoh lainnya,

2y=5,-2-y=5,

maka

7=y atau y=7-7=y \text{ atau } y=-7

Aturan untuk Perkalian Bilangan Bulat/Integer

Kita bisa mengalikan bilangan integer atau bilangan bulat dan hasilnya juga merupakan bilangan integer. Kita bisa membuat daftar aturan yang mengikat pada perkalian dan juga hubungannya dengan penambahan.

Dalam perkalian kita juga menumpai sifat komutatif dan asosiatif dimana:

ab=baab=ba

dan

(ab)c=a(bc).(ab)c=a(bc).

Kita tekankan bahwa aturan atau sifat ini juga berlaku untuk a,b,ca, b, cbilangan negatif, positif, atau nol. Perkalian juga dilambangkan dengan dot atau titik. Sebagai contoh

3 . 7=213 \space.\space 7=21

dan

(3 . 7) . 4=21 . 4=84,3 . (7 . 4)=3 . 28=84.\begin{aligned} (3\space.\space 7)\space .\space4=21\space.\space4=84,\\ 3\space.\space(7\space.\space4)=3\space.\space28=84. \end{aligned}

Untuk sembarang intefer aa, aturan perkalian dengan 1 dan 0 adalah:

1a=a1a=a

dan

0a=00a=0

Sebagai contoh

(2a)(3b)=2(a(3b))=2(3a)b=(23)ab=6ab\begin{align*} (2a)(3b) &= 2(a(3b)) \\ &= 2(3a)b \\ &= (2 \cdot 3)ab \\ &= 6ab \end{align*}

Pada contoh di atas kita melakukan hal biasa yang sangat bermanfaat yaitu mengumpulkan semua angka eksplisit seperti angka 2 dan 3 di satu sisi dan di sisi lain angka yang diwakili oleh huruf seperti aa atau bb. Dengan menggunakan sifat komutatif dan distributif kita juga dapat melakukan hal serupa seperti ini

(5x)(7y)=35xy(5x)(7y)=35xy

atau dengan faktor yang lebih banyak

(2a)(3b)(5x)=30abx(2a)(3b)(5x)=30abx

Disarankan agar melakukan pembuktian kesamaan ini secara lengkap, menggunakan sifat asosiatif dan komutatif untuk perkalian.

Terakhir, kita mempunyai sifat distributif dalam perkalian, yaitu

a(b+c)=ab+aca(b+c)=ab+ac

dan juga di sisi lain

(b+c)a=ba+ca(b+c)a=ba+ca

Aturan ini tidak dibuktikan tetapi akan digunakan terus-menerus. Beberapa aturan lain akan dibuktikan dengan melalui sifat distributif pada perkalian bilangan integer.

Pertama, perhatikan bahwa jika kita hanya mengasumsikan sifat distributif dan komutatif pada satu sisi, maka kita dapat membuktikan sifat distributif pada sisi lainnya. Misal, kita asumsikan sifat distributif di sisi kiri maka kita akan mendapatkan

(b+c)a=a(b+c)=ab+ac=ba+ca(b+c)a=a(b+c)=ab+ac=ba+ca

dimana hal ini adalah bukti distributif dari sisi kanan.

Kita juga dapat membuktikan aturan 0a=00a=0 dari aturan lain mengenai perkalian dan sifat pertambahan. Berikut pembuktiannya

0a+a=Oa+1a=(0+1)a=1a=a0a+a=Oa+1a=(0+1)a=1a=a

Berikutnya

0a+a=a0a+a=a

Dengan menambahkan a-a di kedua sisi maka kita dapatkan

0a+aa=aa=00a+a-a=a-a=0

Pada sisi kiri menjadi

0a+aa=0a+0=0a0a+a-a=0a+0=0a

Jadi kita dapatkan 0a=00a=0 sebagaimana yang diharapkan.

Kita juga dapat membuktikan

(1)a=a(-1)a=-a

Berikut buktinya

(1)a+a=(a)a+1a=(1+1)a=0a=0.(-1)a+a=(-a)a+1a=(-1+1)a=0a=0.

Dari definisi, (1)a+a=0(-1)a+a=0 artinya bahwa (1)a=a(-1)a=-a sebagaimana dituliskan di atas.

Berikut ada pernyataan

(ab)=(a)b-(ab)=(-a)b

Sebagai bukti, kita harus menunjukan bahwa (a)b(-a)b adalah bentuk negatif dari abab. Oleh sebab itu

ab+(a)b=0ab+(-a)b=0

Melalui sifat distributif, persamaan di atas dapat kita tulis sebagai berikut:

ab+(a)b=(a+(a))b=0b=0ab+(-a)b=(a+(-a))b=0b=0

Dengan demikian, kita sudah medapatkan pembuktian di atas. Dengan cara yang sama, maka kita juga mengambil kesimpulan

(ab)=a(b)-(ab)=a(-b)

Berikut adalah beberapa contoh

(3a)=(3)a=3(a)-(3a)=(-3)a=3(-a)

Begitu juga dengan

4(a5b)=4a20b4(a-5b)=4a-20b

Begitu juga dengan

3(5a7b)=15a+21b-3(5a-7b)=-15a+21b

Dalam setiap kasus di atas, kita harus menunjukkan secara spesifik setiap aturan yang telah kita gunakan untuk menurunkan persamaan yang diinginkan. Sekali lagi, ditekankan bahwa kita harus sangat berhati-hati saat bekerja dengan bilangan negatif dan tanda minus yang berulang. Ini adalah salah satu sumber kesalahan yang paling sering terjadi saat kita mengerjakan perkalian dan penjumlahan.

Sebagai contoh

(2a)(3b)(4c)=(2) . 3. 4abc=24abc\begin{align*} (-2a)(3b)(4c) &=(-2)\space.\space3.\space4abc \\ &= -24abc \\ \end{align*}

Begitu juga

(4x)(5y)(3c)=(4)5(3)xyc=60xyc\begin{gather} (-4x)(5y)(-3c) & = (-4)5(-3)xyc\\ & = -60xyc\\ \end{gather}

Perhatikan bahwa hasil perkalian dua negatif hasilnya adalah positif. Contoh

(1)(1)=1(-1)(-1)=1

Untuk pembuktian, kita terapkan aturan

(ab)=(a)b=a(b)-(ab)=(-a)b=a(-b)

Sehingga didapatkan

(1)(1)=(1(1))=(1)=1(-1)(-1)=-(1(-1))=-(-1)=1

Secara lebih umum, untuk sembarang bilangan bulat atau integer a,ba, b kita dapatkan

(a)(b)=ab(-a)(-b)=ab

Dari sini kita lihat bahwa hasil perkalian dua bilangan negatif adalah positif, karena jika aa dan 66 adalah bilangan positif dan a-a dan 6-6 adalah bilangan negatif, maka (—a)(—6) adalah bilangan positif abab. Misalnya, 3-3 dan 5-5 adalah bilangan negatif, tetapi

(3)(5)=(3(5))=((3 . 5))=15.(—3 ) (—5) = — (3(—5)) = — (— (3 \space.\space 5)) = 15.

Contoh. Hasil perkalian bilangan negatif dengan bilangan positif adalah negatif. Misalnya, —4 adalah negatif, 7 adalah positif, dan

(4)  7=(4  7)=28(—4) \space \cdot \space 7 = -(4\space \cdot \space7) = -28

sehingga (4)  7(—4) \space •\space 7 adalah negatif.

Ketika kita mengalikan suatu bilangan dengan dirinya sendiri beberapa kali, akan lebih mudah menggunakan notasi untuk menyingkat operasi ini. Dengan demikian kita menulis

aa=a2aaa=a3aaaa=a4\begin{aligned} aa & = a^2 \\ aaa & = a^3 \\ aaaa & = a^4 \\ \end{aligned}

dan secara umum jika nn adalah bilangan integer positif,

an=aa . . . a  (dikalikan sejumlah n kali)a^n = aa \space . \space . \space . \space a \space \space (\text{dikalikan sejumlah }n \text{ kali)}

Kita katakan bahwa ana^n adalah pangkat ke-n dari aa. Dengan demikian, a2a^2 adalah pangkat kedua dari aa, dan a5a^5 adalah pangkat kelima dari aa.

Jika m,nm, n adalah integer positif, maka

am+n=amana^{m+n} =a^m a^n

Hal ini secara sederhana menyatakan bahwa jika kita mengambil hasil perkalian aa dengan dirinya sendiri sebanyak m+nm+n kali, maka ini sama dengan mengambil hasil perkalian aa dengan dirinya sendiri sebanyak mm kali dan mengalikannya dengan hasil perkalian aa dengan dirinya sendiri sebanyak nn kali.

Contoh

a2a3=(aa)(aaa)=a2+3=aaaaa=a5.a^2 a^3 = (aa) (aaa) = a^{2+3} = aaaaa = a^5.

Contoh

(4x)2=4x  4x=4  4xx=16x2.(4x)^2 = 4x \space \cdot \space 4x = 4 \space \cdot \space 4xx = 16x^2.

Contoh

(7x)(2x)(5x)=7  2  5xxx=70x3.(7x)(2x)(5x) = 7 \space \cdot \space 2 \space \cdot \space 5xxx = 70x^3.

Kita memiliki aturan lain untuk operasi pangkat, yaitu:

(am)n=amn(a^m)^n = a^{mn}

Ini berarti bahwa jika kita mengambil hasil perkalian aa dengan dirinya sendiri sebanyak mm kali, dan kemudian hasil dari ama^m dikalikan dengandirinya sendiri sebanyak nn kali, maka kita akan mendapatkan hasil perkalian aa dengan dirinya sendiri sebanyak mnmn kali.

Sebagai contoh

(a3)4=a12(a^3)^4=a^{12}

Kita dapatkan

(ab)n=anbn(ab)^n=a^nb^n

dikarenakan

(ab)n=ababab(perkalian sendiri ab sebanyak n kali)=aaanbbbn=anbn.\begin{aligned} (ab)^n &= abab \cdots ab && \text{(perkalian sendiri $ab$ sebanyak $n$ kali)} \\ &= \underbrace{aa \cdots a}_{n} \underbrace{bb \cdots b}_{n} \\ &= a^n b^n. \end{aligned}

Sebagai contoh

(2a3)5=25(a3)5=32a15(2a^3)^5=2^5(a^3)^5=32a^{15}

Contoh. Populasi sebuah kota adalah 300 ribu jiwa pada tahun 1930, dan berlipat ganda setiap 20 tahun. Berapa populasi kota tersebut setelah 60 tahun?

Ini adalah kasus penerapan pangkat. Setelah 20 tahun, populasinya adalah 23002\cdot300 ribu. Setelah 40 tahun, populasinya adalah 223002^2 \cdot 300 ribu. Setelah 60 tahun, populasinya adalah 233002^3 \cdot 300 ribu, yang merupakan jawaban yang benar. Tentu saja, kita juga dapat mengatakan bahwa populasinya akan menjadi 2,4 juta jiwa.

Tiga rumus berikut ini digunakan terus-menerus. Rumus-rumus ini sangat penting sehingga harus dihafal secara menyeluruh dengan membacanya keras-keras dan mengulanginya seperti puisi agar dapat mengingatnya secara kuat.

(a+b)2=a2+2ab+b2(a + b)^2 = a^2 + 2ab + b^2
(ab)2=a22ab+b2(a – b)^2 = a^2 – 2ab + b^2
(a+b)(ab)=a2b2(a + b)(a – b) = a^2 – b^2

Pembuktian. Bukti dilakukan dengan menerapkan aturan perkalian secara berulang. Kita mempunyai:

(a+b)2=(a+b)(a+b)=a(a+b)+b(a+b)=aa+ab+ba+bb=a2+ab+ab+b2=a2+2ab+b2\begin{align*} (a + b)^2 &= (a + b)(a + b) &= a(a + b) + b(a + b) \\ &&= aa + ab + ba + bb \\ &&= a^2 + ab + ab + b^2 \\ &&= a^2 + 2ab + b^2 \\ \end{align*}

dimana membuktikan rumus pertama.

(ab)2=(ab)(ab)=a(ab)b(ab)=aaabba+bb=a2abab+b2=a22ab+b2\begin{align*} (a – b)^2 &= (a – b)(a – b) &= a(a – b) – b(a – b) \\ &&= aa – ab – ba + bb \\ &&= a^2 – ab – ab + b^2 \\ &&= a^2 – 2ab + b^2 \\ \end{align*}

dimana membuktikan rumus kedua.

(a+b)(ab)=a(ab)+b(ab)=aaab+abbb=a2ab+abb2=a2b2\begin{align*} (a + b)(a – b) &= a(a – b) + b(a – b) &= aa – ab + ab- bb \\ &&= a^2 – ab + ab – b^2 \\ &&= a^2 – b^2 \\ \end{align*}

dimana membuktikan rumus ketiga.

Contoh

(2+3x)2=22+223x+(3x)2=4+12x+9x2\begin{align*} (2 + 3x)^2 &= 2^2 + 2 \cdot 2 \cdot 3x + (3x)^2 \\ &= 4 + 12x + 9x^2 \end{align*}

Contoh

(34x)2=32234x+(4x)2=924x+16x2\begin{align*} (3 – 4x)^2 &= 3^2 – 2 \cdot 3 \cdot 4x + (4x)^2 \\ &= 9 – 24x + 16x^2 \end{align*}

Contoh

(2a+5b)2=4a2+2(2a)(5b)+25b2=4a220ab+25b2\begin{align*} (-2a + 5b)^2 &= 4a^2 + 2(-2a)(5b) + 25b^2 \\ &= 4a^2 – 20ab + 25b^2 \end{align*}

Contoh

(4a6)(4a+6)=(4a)236=16a236\begin{align*} (4a – 6)(4a + 6) &= (4a)^2 – 36 \\ &= 16a^2 – 36 \end{align*}

Sejauh ini kita telah membahas contoh-contoh hasil perkalian dua faktor. Tentu saja, kita dapat mengambil hasil perkalian lebih dari satu faktor dengan menggunakan sifat asosiatif.

Contoh, kembangkan persamaan di bawah

(2x+1)(x2)(X+5)(2x+1)(x-2)(X+5)

sebagai jumlah pangkat xx yang dikalikan dengan bilangan bulat.

Pertama-tama kita kalikan dua faktor pertama, dan diperoleh

(2x+1)(x2)=2x(x2)+1(x2)=2x24x+x2=2x23x2\begin{align*} (2x + 1)(x – 2) &= 2x(x – 2) + 1(x – 2) \\ &= 2x^2 – 4x + x – 2 \\ &= 2x^2 – 3x – 2 \end{align*}

Kemudian kita kalikan dengan ekspresi teakhir dengan x+5x+5 dan kita dapatkan

(2x+1)(x2)(x+5)=(2x23x2)(x+5)=(2x23x2)x+(2x23x2)5=2x33x22x+10x215x10=2x3+7x217x10\begin{align*} (2x + 1)(x – 2)(x + 5)&=(2x^2 – 3x – 2)(x + 5) \\ &= (2x^2 – 3x – 2)x + (2x^2 – 3x – 2)5 \\ &= 2x^3 – 3x^2 – 2x + 10x^2 – 15x – 10 \\ &= 2x^3 + 7x^2 – 17x – 10 \end{align*}

Bilangan Ganjil dan Genap; Divisibilitas/Keterbagian

Terdapat bilangan bulat positif 1, 2, 3, 4, 5, …, dan kita akan membedakan dua jenis bilangan bulat. Kita menyebutnya

1,3,5,7,9,11,13,...1, 3, 5, 7, 9, 11, 13, . . .

bilangan ganjil dan kita menyebut

2,4,6,8,10,12,14,...2, 4, 6, 8, 10, 12, 14, …

bilangan genap.

Dengan demikian, bilangan ganjil bertambah 2 dan bilangan genap bertambah 2. Bilangan ganjil dimulai dengan 1, dan bilangan genap dimulai dengan 2. Cara lain untuk mendeskripsikan bilangan genap adalah dengan mengatakan bahwa itu adalah bilangan bulat positif yang dapat ditulis dalam bentuk 2n2n untuk beberapa integer positif nn. Misalnya, kita dapat menulis

2=21,4=22,6=23,8=24,\begin{align*} 2 &= 2 \cdot 1, \\ 4 &= 2 \cdot 2, \\ 6 &= 2 \cdot 3, \\ 8 &= 2 \cdot 4, \end{align*}

dan seterusnya. Demikian pula, integer ganjil adalah bilangan bulat yang berbeda dari bilangan genap sebesar 1, dan dengan demikian dapat ditulis dalam bentuk 2m12m-1 untuk beberapa integer mm. Misalnya,

1=211,3=221,5=231,7=241,9=251,\begin{align*} 1 &= 2 \cdot 1 – 1, \\ 3 &= 2 \cdot 2 – 1, \\ 5 &= 2 \cdot 3 – 1, \\ 7 &= 2 \cdot 4 – 1, \\ 9 &= 2 \cdot 5 – 1, \end{align*}

dan seterusnya. Perhatikan bahwa kita juga dapat menulis bilangan bulat ganjil dalam bentuk

2n+12n+1

jika kita menyatakan nn menjadi bilangan asli, yaitu n=0n=0, maka kita mendapatkan

1=20+1,3=21+1,5=22+1,7=23+1,9=24+1,\begin{align*} 1 &= 2 \cdot 0 + 1, \\ 3 &= 2 \cdot 1 + 1, \\ 5 &= 2 \cdot 2 + 1, \\ 7 &= 2 \cdot 3 + 1, \\ 9 &= 2 \cdot 4 + 1, \end{align*}

dan seterusnya.

𝑇ℎ𝑒𝑜𝑟𝑒𝑚𝑎 1. Kita tetapkan a,b integer positif.Jika a genap dan b genap, maka a+b bilangan genap.Jika a genap dan b ganjil, maka a+b builangan ganjil. Jika a ganjil dan b genap, maka a+b bilangan ganjil.Jika a ganjil dan b ganjil, maka a+b bilangan genap.\begin{align*} \text {\emph{Theorema 1}. Kita tetapkan $a, b$ integer positif.} \\ \text {Jika $a$ genap dan $b$ genap, maka $a + b$ bilangan genap.} \\ \text {Jika $a$ genap dan $b$ ganjil, maka $a + b$ builangan ganjil. } \\ \text {Jika $a$ ganjil dan $b$ genap, maka $a + b$ bilangan ganjil.} \\ \text {Jika $a$ ganjil dan $b$ ganjil, maka $a + b$ bilangan genap.} \\ \end{align*}

Bukti. Kita akan membuktikan pernyataan kedua, dan sisanya kita serahkan sebagai latihan. Asumsikan bahwa aa adalah bilangan genap dan bb adalah bilangan ganjil. Maka kita dapat menulis

a=2ndanb=2k+1\begin{align*} a=2n & &\text{dan} & & b=2k+1 \end{align*}

untuk suatu bilangan bulat positif nn dan suatu bilangan asli kk. Maka

a+b=2n+2k+1=2(n+k)+1=2m+1(dengan menetapkan m=n+k)\begin{align*} a+b&=2n+2k+1 && \\ &=2 (n+k)+1 &&\\ &= 2m +1 &(\text{dengan menetapkan $m = n + k$})\\ \end{align*}

Hal ini menjadi bukti bahwa a+ba+b merupakan bilangan ganjil.

Teorema 2. Misalkan aa adalah bilangan bulat positif. Jika aa genap, maka a2a^2 genap. Jika aa ganjil, maka a2a^2 adalah ganjil.

Pembuktian. Asumsikan bahwa aa adalah bilangan genap. Ini berarti bahwa a=2na=2n untuk beberapa integer positif nn. Maka

a2=2n2n=2(2n2)=2ma^2 = 2n \cdot 2n = 2 (2n^2) = 2m

dimana m=2n2m=2n^2adalah sebuah integer positif oleh sebab itu a2a^2merupakan bilangan genap.

Selanjutnya, anggaplah aa adalah bilangan ganjil, dan tuliskan a=2n+1a=2n+1 untuk suatu integer nn. Kemudian

a2=(2n+1)2=(2n)2+2(2n)1+12=4n2+4n+1=2(2n2+2n)+1=2k+1dimana k=2n2+2n\begin{align*} a^2 = (2n+1)^2 &= (2n)^2+2(2n)1+1^2 &\\ & = 4n^2+4n+1 &\\ &=2(2n^2+2n)+1 &\\ &=2k+1& \text{dimana $k=2n^2+2n$} \end{align*}

Oleh a2a^2 adalah ganjil, sehingga membuktikan teorema tersebut.

Akibat. Misalkan aa adalah integer positif. Jika a2a^2 genap, maka aa genap. Jika a2a^2 ganjil, maka aa juga ganjil.

Bukti. Ini sebenarnya hanya perumusan ulang teorema, dengan mempertimbangkan logika biasa. Jika a2a^2 adalah genap, maka aa tidak mungkin ganjil karena kuadrat bilangan ganjil adalah ganjil. Jika a2a^2 adalah bilangan ganjil, maka aa tidak mungkin genap karena kuadrat bilangan genap adalah genap.

Kita dapat menggeneralisasi sifat yang digunakan untuk mendefinisikan integer genap. Misalkan dd adalah integer positif dan nn adalah bilangan bulat. Kita akan mengatakan bahwa dd membagi nn, atau bahwa nn habis dibagi dd jika kita dapat menuliskan

n=dkn=dk

untuk suatu bilangan bulat kk. Dengan demikian, bilangan genap adalah integer positif yang habis dibagi 2. Menurut definisi kita, angka 9 habis dibagi 3 karena

9=339=3 \cdot 3

Selain itu, 15 habis dibagi 3 karena

15=3515=3 \cdot 5

Selain itu, 30-30 habis dibagi 5 karena

30=5(6)-30 = 5( —6)

Perhatikan bahwa setiap bilangan bulat habis dibagi 1, karena kita selalu dapat menulis

n=1nn = 1 \cdot n

Lebih jauh lagi, setiap bilangan bulat positif dapat dibagi habis oleh dirinya sendiri.

Bilangan Rasional

Yang dimaksud dengan bilangan rasional adalah sebuah pecahan biasa, yaitu ditulis

mn juga ditulism/n\begin{align*} \frac{m}{n} && \text{ juga ditulis} & &m/n \\ \end{align*}

di mana m,nm, n adalah integer dan n0n \neq 0. Dalam mengambil hasil bagi m/nm/n tersebut, ditekankan bahwa kita tidak dapat membagi dengan 0, sehingga kita harus selalu memastikan bahwa n0n \neq 0. Misalnya,

1,4=1410dan1,41=141100\begin{align*} 1,4=\frac{14}{10} && \text{dan} & & 1,41=\frac{141}{100} \\ \end{align*}

Sama seperti yang kita lakukan dengan bilangan bulat, kita dapat merepresentasikan bilangan rasional pada garis. Misalnya, 12\frac{1}{2} terletak setengah jalan diantara 0 dan 1, sedangkan 23\frac{2}{3} terletak dua pertiga jalan antara 0 dan 1, seperti yang ditunjukkan pada gambar berikut.

Bilangan rasional negatif 34-\frac{3}{4} terletak di sisi berlawanan dari 0 dengan jarak 34\frac{3}{4} dari 0. Pada gambar berikut, kita telah menggambar 34-\frac{3}{4} dan 54-\frac{5}{4}.

Tidak ada representasi tunggal dari bilangan rasional sebagai hasil bagi dua bilangan bulat. Misalnya

12=24\frac{1}{2}=\frac{2}{4}

Kita dapat menginterpretasikan ini secara geometris pada garis tersebut. Jika kita membagi segmen antara 0 dan 1 menjadi empat bagian yang sama, dan kita mengambil dua perempatnya, maka ini sama dengan mengambil setengah dari segmen tersebut. Gambar:

Kita membutuhkan aturan umum untuk menentukan kapan dua ekspresi hasil bagi bilangan bulat menghasilkan bilangan rasional yang sama. Kita mengasumsikan aturan ini tanpa bukti. Aturan tersebut dinyatakan sebagai berikut.

Aturan untuk perkalian silang. Misalkan m,n,r,sm, n, r, s adalah bilangan bulat dan anggap bahwa n0n \neq 0 dan s0s \neq 0. Maka

mn=rs jika dan hanya jikams=rn\begin{align*} \frac{m}{n}=\frac{r}{s} && \text{ jika dan hanya jika} & & ms = rn \\ \end{align*}

Istilah “perkalian silang” muncul dari visualisasi persamaan di bawah:

mn×rs\frac{m}{n} \times \frac{r}{s}

Sebagai contoh kita punya

12=24\frac{1}{2}=\frac{2}{4}

karena

14=221 \cdot 4 = 2 \cdot 2

Begitu pula

37=921\frac{3}{7} = \frac{9}{21}

karena

321=973 \cdot 21 = 9 \cdot 7

(kedua sisi sama dengan 63).

Kita juga tidak membedakan antara bilangan bulat mm dan bilangan rasional m/1m/1. Dengan demikian kita tulis

m=m/1=m1m=m/1=\frac{m}{1}

Dengan konvensi ini, kita melihat bahwa setiap bilangan bulat juga merupakan bilangan rasional. Misalnya, 3=3/13=3/1 dan 414/1.-4-14/1.

Perhatikan kasus khusus perkalian silang ketika salah satu sisinya adalah integr. Misalnya:

2n5=61,2n5=6,2n=30,n=302=15\begin{align*} \frac{2n}{5} = \frac{6}{1}, && \frac{2n}{5}=6, && 2n=30, && n=\frac{30}{2}=15 \end{align*}

dimana semuanya merupakan formula atau persamaan yang setara dari suatu relasi yang melibatkan n.

Tentu saja, perkalian silang juga berlaku untuk bilangan negatif. Misalnya

45=810\frac{-4}{5} = \frac{8}{-10}

karena

(4)(10)=85(-4)( —10) =8 \cdot 5

(kedua sisi sama dengan 40).

Catatan. Untuk saat ini, kita membahas hasil bagi integer dan menjelaskan bagaimana perilakunya. Di bagian selanjutnya kita akan membahas invers perkalian. Di sana, dapat kita melihat bagaimana aturan perkalian silang sebenarnya dapat dibuktikan dari sifat-sifat invers tersebut. Beberapa orang menganggap bukti ini sebagai alasan mengapa perkalian silang “berfungsi”. Namun, dalam beberapa konteks, seseorang ingin mendefinisikan invers perkalian dengan menggunakan aturan perkalian silang. Inilah alasan mengapa hal ini ditekankan di sini secara terpisah.

Aturan pembatalan untuk pecahan. Misalkan aa adalah bilangan bulat bukan nol. Misalkan m,nm, n adalah bilangan bulat, n0n \neq 0. Maka

aman=mn\frac{am}{an}=\frac{m}{n}

Bukti. Untuk menguji kesamaan, kita menerapkan aturan perkalian silang. Kita harus memverifikasi bahwa

(am)n=m(an)(am)n = m(an)

yang kita lihat terbukti benar berdasarkan sifat asosiatif dan komutatif.

Contoh-contoh yang diberikan adalah kasus khusus dari aturan pembatalan ini. Misalnya

45=(2)(4)(2)5=810\frac{-4}{5}=\frac{(-2)(-4)}{(-2)5}=\frac{8}{-10}

Dalam menangani hasil bagi bilangan bulat yang mungkin negatif, ada baiknya untuk memperhatikan bahwa

mn=mn\frac{-m}{n}=\frac{m}{-n}

Hal ini dibuktikan dengan perkalian silang, yaitu kita harus memverifikasi bahwa

(m)(n)=mn(-m)(-n) = mn

yang kita sudah tahu itu benar.

Aturan pembatalan mengarahkan kita untuk menggunakan aturan divisinilitas yang telah disebutkan sebelumnya. Memang, misalkan dd adalah bilangan bulat positif dan m,nm, n habis dibagi dd(atau seperti yang juga kita katakan, bahwa dd adalah pembagi persekutuan dari m,nm, n). Maka kita dapat menulis

m=drdann=ds\begin{align*} m=dr && \text{dan} & & n=ds \\ \end{align*}

untuk integer rr dan ss, maka

mn=drds=rs\frac{m}{n}=\frac{dr}{ds}=\frac{r}{s}

Kami melihat bahwa aturan pembatalan telah berlaku.

Contoh

1015=2535=23\frac{10}{15}=\frac{2 \cdot 5}{3 \cdot 5}=\frac{2}{3}

karena 10 dan 15 sama-sama habis dibagi 5.

Kita katakan bahwa suatu bilangan rasional adalah positif jika dapat ditulis dalam bentuk m/nm/n, di mana m,nm, n adalah bilangan bulat positif. Misalkan aa adalah bilangan rasional positif. Kita dapat mengatakan bahwa aa diekspresikan dalam bentuk paling sederhana sebagai pecahan

a=rsa=\frac{r}{s}

di mana r,sr, s adalah bilangan bulat positif jika satu-satunya pembagi persekutuan dari rr dan ss adalah 1.

Teorema 3. Setiap bilangan rasional positif memiliki ekspresi pecahan dalam bentuk paling sederhana.

Bukti. Pertama, tuliskan bilangan rasional positif yang diberikan sebagai hasil bagi bilangan bulat positif m/nm/n. Kita tahu bahwa 1 adalah pembagi persekutuan dari mm dan nn. Lebih lanjut, setiap pembagi persekutuan paling banyak sama dengan mm atau nn. Jadi di antara semua pembagi persekutuan ada satu yang terbesar, yang kita lambangkan dengan dd. Dengan demikian kita dapat menulis

m=drdann=ds\begin{align*} m=dr && \text{dan} & & n=ds \\ \end{align*}

untuk integer positif rr dan ss. Bilangan rasional kita sama dengan

mn=drds=rs\frac{m}{n}=\frac{dr}{ds}=\frac{r}{s}

Yang perlu kita lakukan sekarang adalah menunjukkan bahwa satu-satunya pembagi persekutuan dari rr dan ss adalah 1. Misalkan ee adalah pembagi persekutuan yang lebih besar dari 1. Maka kita dapat menulis

r=exdans=ey\begin{align*} r=ex && \text{dan} & & s=ey \\ \end{align*}

dengan integer positif xx dan yy. Sehingga

m=dr=dexdann=ds=dey\begin{align*} m=dr=dex && \text{dan} & & n=ds=dey \\ \end{align*}

Oleh karena itu, dede adalah pembagi persekutuan untuk mm dan nn, dan lebih besar dari dd karena ee lebih besar dari 1. Ini tidak mungkin karena kita mengasumsikan bahwa dd adalah pembagi persekutuan terbesar dari mm dan nn. Oleh karena itu, 1 adalah satu-satunya pembagi persekutuan dari rr dan ss, dan teorema kita terbukti.

Contoh. Setiap bilangan rasional positif dapat dinyatakan sebagai hasil bagi m/nm/n, di mana m,nm, n adalah bilangan bulat positif yang kedua-duanya bukan genap, karena jika m/nm/n adalah ekspresi bilangan rasional ini dalam bentuk paling sederhana, maka 2 tidak dapat membagi mm dan juga nn sekaligus, dan oleh karena itu setidaknya salah satu dari keduanya harus ganjil.

Misalkan

mndanrs\begin{align*} \frac{m}{n} && \text{dan} & & \frac{r}{s} \\ \end{align*}

adalah bilangan rasional, yang dinyatakan sebagai hasil bagi integer atau bilangan bulat. Kita dapat menempatkan bilangan rasional ini di atas penyebut bersama nsns dengan menuliskan

mn=msnsdanrs=nrns\begin{align*} \frac{m}{n} = \frac{ms}{ns} && \text{dan} & & \frac{r}{s}=\frac{nr}{ns} \\ \end{align*}

Sebagai contoh, untuk menempatkan 3/53/5 dan 5/75/7 di atas denominator atau penyebut bersama 57=355 \cdot 7=35, kita tulis

35=3757=2135 dan 35=5575=2535\begin{align*} \frac{3}{5} = \frac{3 \cdot 7}{5 \cdot 7} = \frac{21}{35} && \text{ dan }&& \frac{3}{5} = \frac{5 \cdot 5}{7 \cdot 5} = \frac{25}{35}\\ \end{align*}

Hal ini membawa kita pada rumus penjumlahan bilangan rasional. Pertama-tama, mari kita pertimbangkan kasus khusus, yaitu ketika bilangan rasional memiliki penyebut yang sama, misalnya

35+85=115\frac{3}{5} + \frac{8}{5}= \frac{11}{5}

Hal ini cukup masuk akal hanya dari interpretasi bilangan rasional: Jika kita memiliki tiga perlima dari sesuatu, dan menambahkan delapan perlima dari hal yang sama, maka kita mendapatkan sebelas perlima dari hal tersebut. Secara umum, kita dapat menulis aturan penjumlahan ketika bilangan rasional memiliki penyebut yang sama sebagai berikut

ad+bd=a+bd\frac{a}{d} + \frac{b}{d}= \frac{a+b}{d}

Contoh. Terdapat

58+28=38\frac{-5}{8} + \frac{2}{8}= \frac{-3}{8}

Ketika bilangan rasional tidak memiliki penyebut yang sama, kita mendapatkan rumus penjumlahannya dengan menempatkannya di atas penyebut yang sama. Yaitu, misalkan mn\frac{m}{n} dan rs\frac{r}{s} adalah bilangan rasional, yang dinyatakan sebagai hasil bagi integer m,nm, n dan r,sr, s dengan n0n \neq 0 dan s0s \neq 0. Maka kita telah melihat bahwa

mn=smsndanrs=nrns\begin{align*} \frac{m}{n} = \frac{sm}{sn} && \text{dan} & & \frac{r}{s}=\frac{nr}{ns} \\ \end{align*}

Dengan demikian, bilangan rasional kita sekarang memiliki penyebut bersama snsn, dan dengan demikian rumus penjumlahan dalam kasus ini secara umum adalah

mn+rs=ms+rnns\begin{align*} \frac{m}{n} + \frac{r}{s} = \frac{ms+rn}{ns} \\ \end{align*}

Contoh

52+37=(5)7+2314=2914\begin{align*} \frac{-5}{2} + \frac{3}{7} = \frac{(-5) \cdot 7 + 2 \cdot 3}{14} = \cfrac{-29}{14} \\ \end{align*}

Contoh

34+57=212028=128\begin{align*} \frac{3}{-4} + \frac{5}{7} = \frac{21 -20}{-28} = \frac{1}{-28} \\ \end{align*}

Dengan menggunakan aturan penjumlahan bilangan rasional, kita langsung menyimpulkan: Jumlah bilangan rasional positif juga positif. Perhatikan juga bahwa angka 0 memiliki sifat

0n=01=0\frac{0}{n} = \frac{0}{1} =0

untuk setiap bilangan bulat n0n \neq 0. Memang, dengan menerapkan uji kesamaan dua pecahan kita, kita harus memverifikasi bahwa

01=0n0 \cdot 1=0 \cdot n

dan hal tersebut adalah benar karena kedua sisi nilainya sama dengan 0.

Untuk setiap bilangan rational aa kita dapatkan

0+a=a+0=a0+a=a+0=a

Hal ini dengan mudah dilihat dengan menggunakan sifat analog dari nteger. Yaitu, tulis a=m/na=m/n, di mana m,nm, n adalah bilangan bulat, dan n0n \neq 0. Maka

0+a=0n+mn=0+mn=mn=a0+a=\frac{0}{n}+ \frac{m}{n}=\frac{0+m}{n}=\frac{m}{n}=a

dan hal ini juga berlaku untuk sisi yang lain.

Misalkan kita tetapkan a=m/na=m/n adalah bilangan rasional, dimana m,nm, n adalah integer dan n0n \neq 0. Maka kita dapatkan

mn+mn=m+mn=0\frac{-m}{n}+\frac{m}{n} = \frac{-m+m}{n} = 0

Dengan alasan di atas kita dapatkan

mn=mn\frac{-m}{n}=-\frac{m}{n}

Kita juga mendapatkan

mn=mn-\frac{m}{n}=\frac{m}{-n}

Ini menunjukkan bagaimana tanda minus dapat dipindahkan di berbagai suku pecahan tanpa mengubah nilai pecahan tersebut.

Bilangan rasional yang dapat ditulis sebagai pecahan.

mn=mn=mn-\frac{m}{n}=\frac{-m}{n}=\frac{m}{-n}

Jika m,nm, n adalah bilangan bulat positif, maka angka tersebut akan disebut negatif. Misalnya

35=35=35\frac{3}{-5}=\frac{-3}{5}=-\frac{3}{5}

adalah negatif. Dengan menggunakan definisi penjumlahan bilangan rasional, kita dapat dengan mudah memverifikasi sendiri bahwa jumlah bilangan rasional negatif adalah negatif.

Penjumlahan bilangan rasional memenuhi sifat-sifat komutatatif dan asosiatif.

Sama seperti yang kita lakukan untuk bilangan bulat, pernyataan di atas akan diterima tanpa bukti. Ini sebenarnya adalah sifat umum dari bilangan yang jauh lebih umum, yang akan diuraikan kembali untuk bilangan-bilangan tersebut di bagian selanjutnya.

Pada bagian terdahulu, kita membuktikan sejumlah sifat penjumlahan hanya dengan menggunakan sifat komutatif dan asosiatif, beserta aturan-aturan

0+a=adana+(a)=0\begin{align*} 0+a=a && \text{dan} & & a+(-a)=0 \\ \end{align*}

Sifat-sifat ini juga tetap berlaku untuk bilangan rasional.

Pernyataan ini akan diulangi lagi nanti setiap kali kita menjumpai situasi serupa. Misalnya, seperti yang kita lihat sebelumnya

jika a+b=0, maka b=a\text{jika $a+b=0$, maka $b=-a$}

Kita hanya perlu menambahkan a-a ke kedua sisi persamaan a+b=0a+b=0. Dengan kata lain, kita dapat mengatakan: Untuk menguji apakah suatu bilangan rasional sama dengan minus bilangan rasional lainnya, yang perlu kita verifikasi hanyalah bahwa jumlah kedua bilangan tersebut sama dengan 0.

Sekarang kita akan memberikan rumus perkalian bilangan rasional. Rumusnya adalah:

mnrs=mrns\frac{m}{n} \cdot \frac{r}{s}=\frac{mr}{ns}

Jadi, untuk mengambil hasil perkalian dua bilangan rasional, kita mengalikan pembilangnya dan mengalikan penyebutnya. Lebih tepatnya, pembilang dari hasil perkalian adalah hasil perkalian pembilangnya, dan penyebut dari hasil perkalian adalah hasil perkalian penyebutnya.

Contoh. Kita mempunyai

3578=2140\frac{3}{5} \cdot \frac{7}{8}=\frac{21}{40}

Juga

271116=22112\frac{2}{7} \cdot \frac{11}{16}=\frac{22}{112}

Kita dapat menulis pecahan terakhir ini dalam bentuk yang lebih sederhana, yaitu

271116=211728\frac{2}{7} \cdot \frac{11}{16}=\frac{2\cdot11}{7 \cdot 2 \cdot 8}

Kita kemudian dapat membatalkan atau menghapus 2 dan mendapatkan

271116=1156\frac{2}{7} \cdot \frac{11}{16}=\frac{11}{56}

Ini menunjukkan bahwa terkadang lebih baik untuk tidak melakukan perkalian sebelum mempertimbangkan kemungkinan pembatalan.

Contoh. Terdapat

4573=(4)75(3)=2815=2815\frac{-4}{5} \cdot \frac{7}{-3}=\frac{(-4)7}{5(-3)} = \frac{-28}{-15} = \frac{28}{15}

Contoh. Misalkan a=m/na=m/n adalah bilangan rasional yang dinyatakan sebagai hasil bagi bilangan bulat. Maka

a2=(mn)2=mn  mn=m2n2a^2= {\bigg(\frac{m}{n}\bigg)}^2=\frac{m}{n} \space \ \frac{m}{n}=\frac{m^2}{n^2}

Begitu pula,

a3=mn mn  mn=m3n3a^3=\frac{m}{n} \space \frac{m}{n} \space \ \frac{m}{n} = \frac{m^3}{n^3}

Sedcara umum, untuk setiap integer positif kk, kita dapatkan

ak=(mn)k=mknka^k= {\bigg(\frac{m}{n}\bigg)}^k=\frac{m^k}{n^k}

Contoh

(12)3=123=18{\bigg(\frac{1}{2}\bigg)}^3= \frac{1}{2^3}=\frac{1}{8}

Begitu juga

(35)4=3454=81625{\bigg(\frac{3}{5}\bigg)}^4= \frac{3^4}{5^4}=\frac{81}{625}

Contoh. Suatu zat kimia terurai sedemikian rupa sehingga volumenya berkurang setengah setiap 10 menit. Jika terdapat 20 gram (g) zat tersebut pada waktu tertentu, berapa banyak yang tersisa setelah 50 menit?

Ini mudah dilakukan. Setelah10 menit, kita memiliki 1220 g\frac{1}{2} \cdot 20 \text{ g} yang tersisa. Pada akhir 20 menit, kita memiliki 12220 g\frac{1}{2^2} \cdot 20 \text{ g} yang tersisa, dan seterusnya; pada akhir 50 menit, kita memiliki

12520=2032\frac{1}{2^5} \cdot 20 =\frac{20}{32}

gram yaang tersisa. Ini adalah jawaban yang benar. Jika kita ingin mengubah pecahan ke bentuk paling sederhana, kita dapat melakukannya, dan kemudian kita dapatkan jawabannya dalam bentuk 58 g\frac{5}{8} \text{ g}. Kita juga dapat mengubahnya menjadi desimal, yang tidak kita lakukan di sini.

Kita bertanya: Apakah ada bilangan rasional positif aa yang kuadratnya adalah 2? Jawabannya pada awalnya tidak jelas. Bilangan seperti itu adalah akar kuadrat dari 2. Perhatikan bahwa 12=11=11^2=1 \cdot 1=1 dan 22=42^2=4. Dengan demikian, kuadrat dari 1 lebih kecil dari 2 dan kuadrat dari 2 lebih besar dari 2. Oleh karena itu, setiap akar kuadrat positif dari 2 akan terletak di antara 1 dan 2 jika ada. Kita dapat bereksperimen dengan berbagai desimal untuk melihat apakah menghasilkan akar kuadrat dari 2. Misalnya, mari kita coba desimal yang berada tepat di tengah antara 1 dan 2. Kita memiliki

(1,5)2=2,25(1,5)^2=2,25

dimana lebih besar dari 2. Karenanya 1,5 bukan meruapak akar kuadrat dari 2 dan dan terlalu besar untuk menjadi jawaban pertanyaan di atas.

Kita bisa mencoba secara lebih sistematis, yaitu:

(1,1)2=1,21(terlalu kecil),(1,2)2=1,44(terlalu kecil),(1,3)2=1,69(terlalu kecil),(1,4)2=1,96(terlalu kecil tetapi semakin dekat).\begin{align*} (1,1)^2 &= 1,21 &&\text{(terlalu kecil)},\\ (1,2)^2 &= 1,44 &&\text{(terlalu kecil)},\\ (1,3)^2 &= 1,69 &&\text{(terlalu kecil)},\\ (1,4)^2 &= 1,96 &&\text{(terlalu kecil tetapi semakin dekat)}.\\ \end{align*}

Kita tahu bahwa 1,5 terlalu besar, dan oleh karena itu kita harus menggunakan angka desimal berikutnya untuk mencoba lebih lanjut.

(1,41)2=1,9881(terlalu kecil),(1,42)2=2,0164(terlalu besar).\begin{align*} (1,41)^2 &= 1,9881 &&\text{(terlalu kecil)},\\ (1,42)^2 &= 2,0164 &&\text{(terlalu besar)}.\\ \end{align*}

Oleh karena itu, kita harus melanjutkan ke angka desimal berikutnya untuk percobaan lebih lanjut. Kita mencoba secara berturut-turut (1,411)2, (1,412)2, (1,413)2, (1,414)2 dan menemukan bahwa angka-angka tersebut terlalu kecil. Dengan menghitung (1,415)2, kita melihat bahwa angka tersebut terlalu besar. Kita bisa terus melanjutkan seperti ini. Ada beberapa hal yang perlu dikatakan tentang prosedur kita.

  1. Sistem ini sangat sistematis, dan dapat diprogram menggunakan komputer.
  2. Hal ini memberi kita perkiraan yang semakin baik terhadap akar kuadrat dari 2, yaitu memberikan kita bilangan rasional yang kuadratnya semakin mendekati 2.

Namun, untuk menemukan bilangan rasional yang kuadratnya adalah 2, prosedurnya agak merepotkan karena teorema berikut.

Teorema 4. Tidak ada bilangan rasional positif yang kuadratnya adalah 2.

Bukti. Misalkan bilangan rasional tersebut ada. Kita dapat menuliskannya dalam bentuk paling sederhana m/nm/n berdasarkan teorema 3. Secara khusus, tidak mungkin mm dan nn keduanya genap. Kita memiliki

(mn)2=m2n2=2{\bigg(\frac{m}{n}\bigg)}^2=\frac{m^2}{n^2}=2

Oleh karena itu, kita memperoleh

m2=2n2m^2=2n^2

dan kita peroleh m2m^2 adalah bilangan genap. Berdasarkan korolari teorema 2, kita menyimpulkan bahwa mm harus genap, dan oleh karena itu kita dapat menulis

m=2km=2k

untuk suatu bilangan bulat positif kk. Dengan demikian kita peroleh

m2=(2k)2=4k2=2n2m^2=(2k)^2=4k^2=2n^2

Kita dapat menghilangkan angka 2 dari kedua sisi persamaan.

4k2=2n24k^2=2n^2

dan memperoleh

n2=2k2n^2=2k^2

Ini berarti bahwa n2n^2 adalah bilangan genap, dan seperti sebelumnya, kita menyimpulkan bahwa nn itu sendiri harus genap. Dengan demikian, dari asumsi awal kita bahwa (m/n)2=2(m/n)^2=2 dan m/nm/n merupakan bentuk paling sederhana, kita telah memperoleh fakta yang mustahil bahwa m,nm, n keduanya genap. Ini berarti bahwa asumsi awal kita (m/n)2=2(m/n)^2=2 tidak mungkin benar, dan ini mengakhiri pembuktian teorema kita.

Suatu bilangan yang bukan rasional disebut bilangan irasional. Dari teorema 4, kita melihat bahwa jika terdapat bilangan positif aa sedemikian sehingga a2=2a^2=2, maka a haruslah irasional. Kita akan membahas hal ini lebih lanjut di bagian selanjutnya yang membahas bilangan real secara umum.

Perkalian bilangan rasional memenuhi aturan dasar yang sama seperti perkalian bilangan bulat. Kami menyatakannya sekali lagi:

Untuk setiap bilangan rasional aa, berlaku 1a=a1a=a dan 0a=00a=0. Lebih lanjut, perkalian bersifat asosiatif, komutatif, dan distributif terhadap penjumlahan.

Seperti sebelumnya, kita menganggap ini sebagai sifat-sifat bilangan. Selain itu, kita memiliki catatan yang sama untuk perkalian seperti yang kita miliki untuk penjumlahan. Semua sifat yang dibuktikan hanya menggunakan sifat-sifat dasar juga berlaku untuk bilangan rasional. Dengan demikian, rumus-rumus yang kita miliki, seperti

(a+b)2=a2+2ab+b2(a+b)^2=a^2+2ab+b^2

sekarang terbukti berlaku juga untuk bilangan rasional.

Contoh. Selesaikan persamaan untuk mencari nilai aa

3a1=73a-1=7

Kita menambahkan 1 ke kedua sisi persamaan, dan dengan demikian memperoleh

3a=7+1=83a=7+1=8

Kemudian kita bagi dengan 3 dan mendapatkan

a=83a=\frac{8}{3}

Contoh. Selesaikan persamaan untuk xx

2x6=72x-6=7

Berikutnya kita dapat

2x=7+6=132x=7+6=13

dimana

x=132x=\frac{13}{2}

Tentu saja kita bisa memberikan argumen lain untuk menemukan jawabannya. Misalnya, kita bisa terlebih dahulu mendapatkan

x3=72x-3= \frac{7}{2}

dimana

x=72+3x=\frac{7}{2}+3

Ini adalah jawaban yang benar. Namun, kita juga dapat memberikan jawabannya dalam bentuk pecahan. Kita tulis 3=623=\frac{6}{2}, dan kita temukan bahwa

x=72+62=132x=\frac{7}{2}+\frac{6}{2}=\frac{13}{2}

Contoh. Selesaikan persamaan untuk xx

3x72+4=2x\frac{3x-7}{2}+4=2x

Kita kalikan kedua sisi persamaan dengan 2 dan peroleh

3x7+8=4x3x-7+8=4x

Kemudian kita tambahkan 3x-3x ke kedua sisi, untuk mendapatkan

1=4x=3x=x1=4x=3x=x

Ini menyelesaikan soal kita.

Invers Perkalian

Bilangan rasional memenuhi satu sifat yang tidak dipenuhi oleh bilangan bulat, yaitu:

Jika aa adalah bilangan rasional 0\neq 0, maka terdapat bilangan rasional, yang dilambangkan dengan a1a^{-1}, sedemikian sehingga

a1a=aa1=1a^{-1}a=aa^{-1}=1

Memang, jika a=m/na=m/n di mana m,nm, n adalah bilangan bulat 0\neq 0, maka a1=n/ma^{-1} = n/m = karena

mn  nm=mnmn=1\frac{m}{n} \space \ \frac{n}{m}=\frac{mn}{mn}=1

Kita menyebut a1a^{-1} sebagai invers perkalian dari aa.

Contoh. Invers perkalian dari 12\frac{1}{2} adalah 21\frac{2}{1}, atau 2, karena

212=1.2 \cdot \frac{1}{2}=1.

Invers perkalian dari 23\frac{2}{3} adalah 32\frac{3}{2}. Invers perkalian dari 57-\frac{5}{7} adalah 75-\frac{7}{5}.

Perhatikan jika aa dan bb adalah bilangan rasional sehingga

ab=1ab=1

maka

b=a1b=a^{-1}

Bukti. Kita kalikan kedua sisi persamaan ab=1ab=1 dengan a1a^{-1}, dan kita peroleh

a1ab=a11=a1a^{-1}ab=a^{-1}1=a^{-1}

Dengan menggunakan sifat asosiatif di sebelah kiri, kita temukan

a1ab=1b=ba^{-1}ab=1b=b

sehingga kita menemukan b=a1b=a^{-1} seperti yang diinginkan.

Dari keberadaan invers untuk bilangan rasional bukan nol, kita dapat menyimpulkan:

Jika ab=0ab=0, maka a=0a=0 atau b=0b=0

Bukti. Misalkan a0a \neq 0. Kalikan kedua sisi dari persamaan ab=0ab=0 dengan a1a^{-1}. Kita peroleh:

a1ab=0a1=0a^{-1}ab=0a^{-1}=0

Di sisi lain, a1ab=1b=ba^{-1}ab=1b=b, sehingga kita dapatkan b=0b=0 seperti yang diharapkan.

Kita akan menggunakan notasi yang sama seperti untuk hasil bagi bilangan bulat dalam mengambil hasil bagi bilangan rasional.
Kita tulis

ab atau   a/b dari pada b1a   atau ab1\begin{align*} \frac{a}{b} && \text{ atau } &\space\space a/b & \text{ dari pada } && b^{-1}a &\space \space\text{ atau } & ab^{-1} \end{align*}

Contoh. Misalkan a=34a=\frac{3}{4} dan b=57b=\frac{5}{7}. Maka

3/45/7=34(57)1=34  75=2120\frac{3/4}{5/7}=\frac{3}{4} {\bigg(\frac{5}{7}\bigg)} ^{-1}=\frac{3}{4} \space \space\frac{7}{5}=\frac{21}{20}

Contoh. Kita dapatkan

1+12243=(1+12)(243)1=2+12(643)1=32(23)1=32 32=94\begin{align*} \frac{1+\frac{1}{2}}{2-\frac{4}{3}} &= {\bigg(1 + \frac{1}{2}\bigg)} \cdot {\bigg(2-\frac{4}{3}\bigg)} ^{-1} \\ &= \frac{2+1}{2} \cdot {\bigg(\frac{6-4}{3}\bigg)} ^{-1}\\ &=\frac{3}{2}{\bigg(\frac{2}{3}\bigg)} ^{-1} = \frac{3}{2} \space \frac{3}{2} = \frac{9}{4} \end{align*}

Aturan perkalian silang yang berlaku untuk hasil bagi bilangan bulat juga berlaku ketika kita ingin mengalikan silang bilangan rasional. Kita akan menyatakannya, dan membuktikannya hanya dengan menggunakan sifat-sifat dasar penjumlahan, perkalian, dan invers.

Perkalian silang. Misalkan a,b,c,da, b, c, d adalah bilangan rasional, dan anggap bahwa b0b \neq 0 dan d0d \neq 0.

Jikaab=cd,makaad=bc.Jikaad=bc,makacd\begin{align*} Jika & & \frac{a}{b} = \frac{c}{d}, & & maka & & ad=bc.\\ Jika && ad=bc, & & maka && \frac{c}{d} \\ \end{align*}

Bukti. Misalkan a/b=c/da/b=c/d. Kita bisa menulis ulang relasi tersebut dalam bentuk

b1a=d1cb^{-1}a=d^{-1}c

Kalikan kedua sisi dengan dbdb (dimana sama dengan bdbd).Kita peroleh

dbb1a=bdd1cdbb^{-1}a=bdd^{-1}c

sehingga

da=bcda=bc

karena bb1a=1a=1bb^{-1}a=1a=1, begitu pula, dd1c=1c=c.dd^{-1}c=1c=c.

Kebalikannya, kita asumsikan ad=bcad=bc. Kita kalikan kedua sisi dengan b1d1b^{-1}d^{-1}, dimana sama dengan d1b1d^{-1}b^{-1}. Kita peroleh

add1b1=d1b1bcadd^{-1}b^{-1}=d^{-1}b^{-1}bc

hasilnya

ab1=d1cab^{-1}=d^{-1}c

yang artinya a/b=c/da/b=c/d, seperti yang diharapkan.

Contoh. Dengan perkalian silang, kita peroleh

3x1=2\frac{3}{x-1}=2

jika dan hanya jika

3=2(x1)=2x23=2(x-1)=2x-2

dimana sama dengan

3+2=2x3+2=2x

Dengan demikian kita dapat menyelesaikan persamaan untuk xx, dan mendapatkan x=52x=\frac{5}{2}.

Contoh. Dengan perkalian silang, kita peroleh

4+x12x=5\frac{4+x}{\frac{1}{2}x}=5

jika dan hanya jika

4+x=512x=5x24+x=5\cdot \frac{1}{2}x=\frac{5x}{2}

Lagi, dengan melakukan perkalian silang, persamaan di atas sama dengan

2(4+x)=5x2(4+x)=5x

atau

8+2x=5x8+2x=5x

Kurangi 2x2x di kedua sisi dari persamaan di atas sehinnga kita dapat menyelesaikan persamaa untuk xx, dan kita dapatkan

x=83x=\frac{8}{3}

Hukum pembatalan untuk perkalian. Misalkan aa adalah bilangan rasional 0\neq 0.

Jikaab=ac,makab=c.\begin{align*} Jika & & ab = ac, & & maka & & b=c.\\ \end{align*}

Bukti. Kalikan kedua sisi dari persamaan ab=acab=ac dengan a1a^{-1}. Kita akan memperoleh

a1ab=a1aca^{-1}ab=a^{-1}ac

sehingga b=c.b=c.

Kita juga memiliki hukum pembatalan yang serupa dengan hukum untuk hasil bagi bilangan bulat.

Jika a,b,c,da, b, c, d adalah bilangan rasional dan a0a \neq 0, c0c \neq 0, maka

abac=bc\frac{ab}{ac}=\frac{b}{c}

Hal ini dapat diverifikasi, misalnya, dengan perkalian silang, karena kita memiliki

abc=bacabc=bac

(menggunakan sifat komutatif dan asosiatif).

Dengan demikian, kita dapat melakukan operasi dengan pecahan yang dibentuk dari bilangan rasional sama seperti kita dapat melakukan operasi dengan pecahan yang dibentuk dari bilangan bulat.

Contoh. Jika a/ba/b dan c/dc/d adalah dua hasil bagi bilangan rasional (dan b0b \neq 0, d0d \neq 0), maka kita dapat menempatkannya di atas “penyebut umum” dan menuliskan

ab=adbd,cd=bcbd\begin{align*} \frac{a}{b}=\frac{ad}{bd}, &&\frac{c}{d}=\frac{bc}{bd} \end{align*}

Contoh. Jika x,y,bx, y, b adalah bilangan rasional dan b0b \neq 0, maka kita dapat menjumlahkan hasil bagi dengan cara yang mirip dengan penjumlahan hasil bagi bilangan bulat,yaitu

xb+yb=b1x+b1y=b1(x+y)berdasarkan sifat distributif=x+ybberdasarkan definisi\begin{align*} \frac{x}{b}+\frac{y}{b} & =b^{-1}x+b^{-1}y \\ & = b^{-1}(x+y) & \text{berdasarkan sifat distributif}\\ & = \frac{x+y}{b} & \text{berdasarkan definisi} \end{align*}

Dengan menggabungkan hal tersebut dengan prosedur “penyebut umum” dari contoh sebelumnya, kita menemukan

ab+cd=ad+bcbd\frac{a}{b}+\frac{c}{d}=\frac{ad+bc}{bd}

Rumus ini sepenuhnya analog dengan rumus yang mengekspresikan jumlah dua bilangan rasional.

Contoh. Tunjukkan bahwa

1xy+1xy=2xx2y2\frac{1}{x-y}+\frac{1}{x-y}=\frac{2x}{x^2-y^2}

Untuk melakukan ini, kita menambahkan kedua hasil bagi di sebelah kiri dengan rumus umum yang baru saja kita turunkan, dan mendapatkan:

1(x+y)+1(xy)(x+y)(xy)=x+y+xyx2y2=2xx2y2\frac{1(x+y)+1(x-y)}{(x+y)(x-y)}=\frac{x+y+x-y}{x^2-y^2}=\frac{2x}{x^2-y^2}

seperti yang telah ditunjukkan.

Catatan. Pada contoh sebelumnya, hasil bagi 1/(xy)1/(x-y) dan 1/(x+y)1/(x+y) tidak masuk akal jika xy=0x-y=0 atau x+y=0x+y=0. Dalam kasus seperti itu, kita secara diam-diam mengasumsikan bahwa xx dan yy sedemikian rupa sehingga xy0x-y\neq0 atau x+y0x+y\neq0. Selanjutnya, kita terkadang akan menghilangkan penyebutan eksplisit kondisi tersebut jika tidak ada bahaya atau potensi menimbulkan kebingungan.

Contoh. Selesaikan persamaan untuk x berikut ini

3x+12x5=4\frac{3x+1}{2x-5}=4

Kita melakukan perkalian silang. Untuk 2x502x-5\neq0, yaitu x52x\neq \frac{5}{2} , kita temukan persamaan yang setara

3x+1=4(2x5)=8x203x+1=4(2x-5)=8x-20

Kemudian

8x3x=1(20)=1+20=218x-3x=1-(-20)=1+20=21

Ini akhirnya menghasilkan

5x=215x=21

dimana

x=215x=\frac{21}{5}

Contoh. Kita berikan contoh dari dunia fisika. Misalkan sebuah objek bergerak sepanjang garis lurus dengan kecepatan konstan. Misalkan ss menyatakan kecepatan, dd menyatakan jarak yang ditempuh objek, dan tt menyatakan waktu yang dibutuhkan untuk menempuh jarak dd. Maka dalam fisika, kita dapat memverifikasi rumus

d=std=st

Tentu saja, kita harus memilih satuan waktu dan jarak sebelum kita dapat mengaitkan angka dengan satuan tersebut. Misalnya, anggaplah jarak yang ditempuh adalah 5 km, dan waktu yang dibutuhkan adalah 12\frac{1}{2} jam. Maka kecepatannya adalah

s=d/t=5 km12 jam=25 km/jam=10 km/jams=d/t=\frac{5 \text{ km}}{\frac{1}{2}\text{ jam}}=2\cdot5 \text{ km/jam} = 10 \text{ km/jam}

Contoh. Seseorang melakukan perjalanan dan mengemudi selama 8 jam, menempuh jarak 400 km. Kecepatan rata-ratanya adalah 60 km/jam di jalan tol, dan 30 km/jam saat melewati kota. Berapa lama orang tersebut mengemudi melewati kota selama perjalanannya?

Untuk menyelesaikan ini, misalkan xx adalah lamanya waktu yang dihabiskan orang tersebut mengemudi melalui kota. Maka lamanya waktu orang tersebut berada di jalan bebas hambatan adalah 8x8-x. Jarak yang ditempuh melalui kota sama dengan 30x30x, dan jarak yang ditempuh di jalan bebas hambatan adalah 60(8x)60(8-x). Karena total jarak yang ditempuh adalah 400 km, maka kita memiliki

30x+60(8x)=40030x+60(8-x)=400

Persamaan ini sama dengan

30x+48060x=40030x+480-60x=400

dan

80=30x80=30x

Sehingga kita dapatkan

x=8030=83x=\frac{80}{30}=\frac{8}{3}

Oleh karena itu, orang tersebut menghabiskan 83\frac{8}{3} jam mengemudi melewati kota-kota tersebut.

Contoh. Radiator mobil berisi 8 liter cairan, yang terdiri dari air dan 40% antibeku. Berapa banyak cairan yang harus dikuras dan diganti dengan antibeku jika campuran yang dihasilkan harus mengandung 90% antibeku?

Misalkan xx adalah jumlah liter yang harus dikuras. Setelah menguras jumlah tersebut, kita akan mendapatkan (8x)(8-x) liter cairan, di mana 40% di antaranya adalah antibeku. Dengan demikian, kita akan mendapatkan

40100(8x) liter\frac{40}{100}(8-x) \text{ liter}

dari antibeku. Karena sekarang kita menambahkan xx liter antibeku, kita melihat bahwa xx memenuhi

x+40100(8x)=901008x+\frac{40}{100}(8-x)=\frac{90}{100}\cdot8

Dari sini kita dapat menyelesaikan persamaan untuk xx, mengubah persamaan ini menjadi persamaan-persamaan yang setara sebagai berikut

x+40100840100x=901008x+\frac{40}{100}\cdot8-\frac{40}{100}x=\frac{90}{100}\cdot8

yang berjumlah

60100x=501008\frac{60}{100}x=\frac{50}{100}\cdot 8

dimana

x=40060=203x=\frac{400}{60}=\frac{20}{3}

Ini adalah jawaban yang benar, tetapi jika kita bersikeras untuk mengubah pecahan ke bentuk paling sederhana, maka kita dapat mengatakan bahwa 6236\frac{2}{3} liter harus diganti dengan antibeku.

Catatan. Contoh-contoh di atas, dan latihan-latihan tersebut, juga dapat dikerjakan menggunakan dua variabel.

Latihan

Latihan 1

Misalkan nn adalah bilangan bulat positif. Dengan nn faktorial, yang ditulis n!n!, kita maksudkan hasil perkalian

123n1 \cdot 2 \cdot 3 \cdot \cdot \cdot n

dari nn bilangan bulat positif pertama. Misalnya,

2!=2,3!=23=6,4!=234=24\begin{align*} 2! = 2,\\ 3! = 2 \cdot 3 = 6,\\ 4! = 2 \cdot 3 \cdot 4 = 24 \\ \end{align*}

Latihan 1 (a). Carilah nilai dari 5!5!, 6!6!, 7!7!, dan 8!8!.

Latihan 1 (b). Definisikan 0!=10! = 1. Definisikan koefisien binomial.

(mn)=m!n!(mn)!\binom{m}{n} = \frac{m!}{n!(m-n)!}

untuk setiap bilangan asli m,nm, n sedemikian sehingga nn terletak antara 00 dan mm. Hitung koefisien binomialnya.

(30),(31),(32),(33),(40),(41),(42),(43),(44),(50),(51),(52),(53),(54),(55).\begin{align*} \binom{3}{0}, \binom{3}{1}, \binom{3}{2}, \binom{3}{3}, \binom{4}{0}, \binom{4}{1}, \binom{4}{2}, \binom{4}{3}, \binom{4}{4}, \\ \binom{5}{0}, \binom{5}{1}, \binom{5}{2}, \binom{5}{3}, \binom{5}{4}, \binom{5}{5}. \end{align*}

Koefisien binomial (mn)\binom{m}{n} adalah sama dengan jumlah cara nn dapat dipilih dari jumlah mm.

Latihan 1(c). Perlihatkan bahwa

(mn)=(mmn)\binom{m}{n} = \binom{m}{m-n}

Latihan 1(d). Perlihatkan bahwa

(mn)+(mn1)=(m+1n)\binom{m}{n} + \binom{m}{n-1} = \binom{m+1}{n}

Jawaban.

1 (a) 5!=120;6!=720;7!=5,040;8!=40,320\text {1 (a) } 5! = 120; 6! = 720; 7! = 5,040; 8! = 40,320

1 (b)(30)=1;(31)=3;(32)=3;(33)=1;(40)=1;(41)=4;(42)=6;(43)=4;(44)=1;(50)=1;(51)=5;(52)=10;(53)=10;(54)=5;(55)=1\begin{align*} \text{1 (b)} & \binom{3}{0}=1; \binom{3}{1}=3; \binom{3}{2}=3; \binom{3}{3}=1; \\ & \binom{4}{0}=1; \binom{4}{1}=4; \binom{4}{2}=6; \binom{4}{3}=4; \binom{4}{4}=1; \\ & \binom{5}{0}=1; \binom{5}{1}=5; \binom{5}{2}=10; \binom{5}{3}=10; \binom{5}{4}=5; \binom{5}{5}=1 \end{align*}

1 (c)\text {1 (c)}

(mmn)=m!(mn)!(m(mn))!=m!(mn)!(mm+n))!=m!(mn)!(n)!=(mn)\begin{align*} \binom{m}{m-n} &=\frac{m!}{(m-n)!(m-(m-n))!} = \frac{m!}{(m-n)!(m-m+n))!}\\ & = \frac{m!}{(m-n)!(n)!} = \binom{m}{n} \end{align*}

1 (d)\text {1 (d)}

(mn)+(mn1)=m!n!mn!+m!(mn+1)!(n1)![denominator umum n!(mn+1)!]=m!(mn+1)+m!nn!(mn+1)!=m!(m+1)n!(mn+1)!=(m+1)!n!((m+1)n)!=(m+1n)\begin{align*} \binom{m}{n} + \binom{m}{n-1} &=\frac{m!}{n!{m-n}!} + \frac{m!}{(m-n+1)!(n-1)!} \\ & \text{[denominator umum $n!(m – n + 1)!$]}\\ & = \frac{m!(m — n + 1) + m!n}{n!(m-n+1)!} = \frac{m! (m + 1)}{n!(m-n+1)!} \\ & = \frac{(m + 1)!}{n!((m+1)-n)!} =\binom{m+1}{n} \end{align*}

Referensi

Serge Lang. (1988). Basic mathematics. Springer. https://doi.org/10.1007/978-1-4612-1027-6

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *