Isometri

Dalam matematika, isometri adalah transformasi yang mempertahankan jarak antar ruang metrik, yang sering disebut gerakan kaku dalam geometri, karena memetakan suatu bangun ke posisi baru tanpa mengubah bentuk atau ukurannya. Sifat kuncinya adalah jarak antara dua titik setelah transformasi tetap sama dengan jarak sebelum transformasi.

Beberapa Pemetaan Standar dari Bidang Datar

Kita perlu mendefinisikan pengertian kekongruenan. Misalnya, jika diberikan dua cakram dengan jari-jari yang sama seperti pada Gambar 1, kita ingin mengatakan bahwa keduanya kongruen.

Gambar 1

Demikian pula, jika diberikan dua segitiga seperti pada Gambar 2, kita juga ingin mengatakan bahwa keduanya kongruen.

Gambar 2

Secara garis besar, ini berarti bahwa satu bangun dapat ditumpangkan di atas bangun lainnya. Untuk membahas konsep kekongruenan dengan benar, akan lebih mudah untuk mendefinisikan terlebih dahulu konsep yang sedikit lebih umum, yaitu isometri. Untuk melakukan itu, kita harus mendefinisikan konsep yang lebih umum lagi, yaitu pemetaan. Semua konsep ini cukup umum, dan kita akan melihat bahwa konsep-konsep ini mencakup, sebagai kasus khusus, hal-hal yang dapat kita visualisasikan dengan mudah, seperti refleksi, rotasi, peregangan, dll., yang diberikan sebagai contoh. Kita akan membahas hal-hal ini terlebih dahulu, dan kemudian membahas kekongruenan di bagian terakhir.

Yang dimaksud dengan pemetaan (atau peta) bidang ke dirinya sendiri adalah sebuah asosiasi, yang mana setiap titik pada suatu bidang mengasosiasikan titik lain pada bidang tersebut. Jika PP adalah sebuah titik dan PP’ adalah titik yang diasosiasikan dengan PP oleh pemetaan tersebut, maka kita menunjuknya dengan tanda panah khusus.

PPP \mapsto P’

Titik PP’ yang terkait dengan PP disebut nilai pemetaan di PP. Kita juga mengatakan bahwa PP’ berkorespondensi dengan PP di bawah pemetaan, atau bahwa PP dipetakan pada PP’.

Sama seperti kita menggunakan huruf untuk menunjukkan angka, ada baiknya menggunakan huruf untuk menunjukkan pemetaan. Jadi, jika FF adalah pemetaan bidang ke dirinya sendiri, kita menunjukkan nilai FF di PP dengan simbol-simbol.

F(P)F(P)

Kita juga akan mengatakan bahwa nilai F(P)F(P) dari FF di PP adalah bayangan PP di bawah FF. Jika F(P)=PF(P) = P’, maka kita juga mengatakan bahwa FF memetakan PP pada PP’.

Berdasarkan definisi, jika FF dan GG adalah pemetaan bidang ke dirinya sendiri, maka kita memiliki

F=GF=G

jika dan hanya jika, untuk setiap titik PP,

F(P)=G(P)F(P) = G(P)

Dengan kata lain, sebuah pemetaan FF sama dengan pemetaan GG jika dan hanya jika FF dan GG memiliki nilai yang sama di setiap titik PP.

Pemetaan konstan

Misalkan OO adalah titik yang diberikan pada bidang. Untuk setiap titik PP, kita mengaitkan titik OO yang diberikan ini. Kemudian kita memperoleh pemetaan, dan OO adalah nilai pemetaan pada setiap titik PP. Kita mengatakan bahwa pemetaan ini konstan, dan bahwa OO adalah nilai konstannya.

Identitas

Untuk setiap titik PP, kita mengaitkan PP itu sendiri. Ini adalah pemetaan yang cukup sederhana, yang disebut identitas, dan dilambangkan dengan II . Dengan demikian kita memiliki

I(P)=PI(P) = P

untuk setiap titik PP.

Refleksi melalui sebuah garis

Misalkan LL adalah sebuah garis. Jika PP adalah sembarang titik, misalkan

L=LPL’ = L_P’

Misalkan PP adalah garis yang melalui PP dan tegak lurus terhadap LL. Misalkan OO adalah titik perpotongan LL dan LL’. Misalkan P’ adalah titik pada LL’ yang berjarak sama dari OO seperti PP, tetapi berlawanan arah. Hubungannya

PiPPi \mapsto P’

disebut refleksi melalui LL, dan dapat dilambangkan dengan RLR_L. Gambar:

Gambar 3

Misalkan OO adalah titik yang diberikan pada bidang. Untuk setiap titik PP pada bidang, kita mengaitkan titik PP’ yang terletak pada garis yang melewati PP dan OO, di sisi lain OO dari P, dan pada jarak yang sama dari OO seperti PP. Pemetaan ini disebut refleksi melalui OO. Gambar berikut

Gambar 4

Kita telah menggambar sebuah titik PP dan nilainya PP’ di bawah pemetaan tersebut, dan juga sebuah titik QQ dan nilainya QQ’ di bawah pemetaan tersebut.

Sebagai contoh, kita dapat mencerminkan keempat sudut persegi panjang melalui titik tengah OO dari persegi panjang tersebut. Setiap sudut dipetakan ke sudut yang berlawanan, seperti pada Gambar 5.

Gambar 5

Dilasi atau Peregangan

Misalkan OO adalah titik yang diberikan pada bidang. Untuk setiap titik PP pada bidang, kita mengaitkan titik PP’ yang terletak pada sinar ROPR_{OP}, dengan titik sudut OO, yang melewati PP, pada jarak dari OO yang sama dengan dua kali jarak PP dari OO. Titik PP’ dalam hal ini juga dilambangkan dengan 2P2P. Gambar:

Gambar 6

Pemetaan khusus ini disebut dilasi 2, atau peregangan 2, relatif terhadap OO. Menurut notasi kita, jika FF adalah dilasi 2, relatif terhadap OO, maka kita memiliki

F(P)=2PF(P) = 2P

Pada Gambar 7 (a) telah menggambar titik-titik

QQ dan F3(Q)F_3(Q)

Pada Gambar 7 (b) telah menggambar titik-titik

Gambar 7

Dilasi terkadang juga disebut transformasi kesamaan, tetapi
kata dilasi adalah istilah terpendek dan terbaik yang digunakan untuk menunjukkan konsep tersebut.

Rotasi

Misalkan OO adalah titik yang diberikan pada bidang datar, dan misalkan AA adalah sudut. Misalkan PP adalah titik pada jarak d dari OO. Misalkan CC adalah lingkaran dengan jari-jari dd yang berpusat di OO. Misalkan PP’ adalah titik pada lingkaran ini sedemikian sehingga sudut POP\angle POP’ memiliki jumlah derajat yang sama dengan AA. Pemetaan yang mengaitkan PP’ dengan PP disebut rotasi (berlawanan arah jarum jam) oleh AA, terhadap OO, atau relatif terhadap OO. Jika kita menyatakan pemetaan ini dengan GAG_A, maka kita dapat mengilustrasikannya pada Gambar 8 (a), di mana kita telah menggambar OO, PP, dan GA(P)G_A(P).

Gambar 8

Kecuali dinyatakan lain, rotasi dengan sudut AA akan selalu berarti rotasi berlawanan arah jarum jam. Tentu saja, kita juga dapat mendefinisikan rotasi searah jarum jam dengan AA, yang kita lambangkan dengan GAG_{-A}. Ini mengaitkan setiap titik PP dengan titik PP” pada jarak yang sama dari OO seperti PP, dan sedemikian rupa sehingga sudutnya

POP\angle P”OP

memiliki ukuran yang sama dengan AA, seperti pada Gambar 8 (b).

Perhatikan bahwa sudut AA yang diberikan belum tentu sama dengan sudut yang dibentuk oleh

POP\angle POP’

(lihat Gambar 9) meskipun keduanya memiliki ukuran yang sama. Namun, pengalaman menunjukkan bahwa dalam diskusi semacam ini, menunjukkan POP\angle POP’

Gambar 9

sebagai sudut AA tidaklah berbahaya, dan seringkali lebih mudah untuk melakukan hal ini untuk menunjukkan apa yang sedang terjadi. Meskipun demikian, tidak selalu aman untuk melakukan hal ini. Misalnya, dalam segitiga seperti pada Gambar 10 di mana kedua sudut bawah AA dan BB memiliki ukuran yang sama, kita tidak akan berpikir untuk menunjuknya dengan huruf yang sama.

Gambar 10

Perhatikan bahwa rotasi sebesar 180° terhadap OO tidak lain adalah refleksi melalui OO. Jadi, jika RR menunjukkan refleksi melalui OO, maka kita memiliki

G180°=RG_{180°} = R

Kita juga memiliki

G180°=RG_{-180°} = R

karena nilai dari masing-masing pemetaan ini pada titik PP adalah titik PP’ yang sama. Meskipun pemetaan ini dijelaskan oleh kondisi yang tampak berbeda, pemetaan tersebut tetap sama. Ingat bahwa, menurut definisi, pemetaan F,GF, G sama jika dan hanya jika

F(P)=G(P)F(P) = G(P)

untuk semua titik PP.

Lebih mudah mengaitkan rotasi dengan angka daripada sudut.
Jika xx adalah angka antara 0 dan 360, kita misalkan

GxG_x

misalkan rotasi tersebut sebesar sudut xx derajat. Perhatikan bahwa

G0=G360=IG_0 = G_{360} = I

tidak lain adalah identitas. (Agar benar-benar tepat, kita juga harus menunjukkan titik OO dalam notasi kita, tetapi sepanjang pembahasan kita, kita berurusan dengan titik yang sama, dan karenanya kita mengabaikannya. Jika kita ingin menunjukkannya secara eksplisit, kita dapat menulis misalnya

GO,xG_{O, x}

untuk rotasi dengan sudut xx derajat relatif terhadap titik OO yang diberikan.)

Misalkan xx adalah bilangan sembarang. Kita menulis xx dalam bentuk

x=360n+wx=360n + w

di mana nn adalah bilangan bulat, dan ww adalah bilangan sedemikian sehingga 0w<3600 \leq w < 360. Kita mendefinisikan GxG_x sebagai

Gx=GwG_x=G_w

Contoh. Misalkan x=500x = 500. Kita tulis

500=360+140500 = 360 + 140

Kemudian berdasarkan definisi

Gx=G140G_x = G_{140}

adalah rotasi sebesar 140°.

Contoh. Misalkan x=210x = -210. Kita tulis

210=360+150.-210 = -360 + 150.

Kemudian

G120=G150G_{-120} = G_{150}

adalah rotasi sebesar 150°.

Contoh. Jika xx dan yy adalah bilangan sedemikian sehingga

x=y+360mx = y + 360m

untuk suatu bilangan bulat mm, maka

Gx=GyG_x = G_y

Yaitu, jika x=360n+wx = 360n + w dengan suatu bilangan bulat nn, dan 0w3600 \leq w \leq 360, maka

y+360m=360n+wy + 360m = 360n + w

dan karenanya

y=360(nm)+wy = 360 (n – m) + w

Menurut definisi kami, kami memiliki

Gx=Gw=GyG_x = G_w = G_y

Kita dapat menginterpretasikan rotasi berlawanan arah jarum jam oleh bilangan negatif sebagai rotasi searah jarum jam oleh bilangan positif.

Contoh. Misalkan x=90x = -90. Maka

90=360+270.-90 = -360 + 270.

Jadi

G90=G270G_{90} = G_{270}

Kita dapat memvisualisasikan ini dengan mengatakan bahwa rotasi searah jarum jam sebesar 90° sama dengan rotasi berlawanan arah jarum jam sebesar 270°.

Kita akan menggunakan konvensi dengan mengatakan bahwa rotasi GxG_x adalah rotasi sebesar xx derajat, atau bahkan dengan sudut xx derajat, meskipun xx mungkin lebih besar dari 360, atau mungkin negatif. Ini adalah bahasa yang mudah dipahami, dan mencerminkan intuisi geometris kita tanpa menimbulkan kebingungan besar.

Translasi

Mari kita pilih sebuah arah pada bidang datar, dan jarak dd. Kita dapat mewakili hal ini dengan sebuah panah seperti pada Gambar 11. Panah tersebut hanyalah pasangan berurutan dari titik (O,M)(O, M), di mana OO adalah titik awalnya dan MM adalah titik akhirnya.

Gambar 11

Panah menunjuk ke arah yang diberikan, dan panjang panah sama dengan jarak yang diberikan. Untuk setiap titik PP, kita mengaitkan titik PP’ yang berjarak dd dari PP ke arah yang diberikan. Ini adalah pemetaan, yang disebut translasi (ditentukan oleh arah dan jarak yang diberikan). Pada Gambar 12, dengan TT sebagai translasi ini, kita telah menggambar dua titik P,QP, Q dan bayangannya di bawah TT.

Gambar 12

Translasi yang ditentukan oleh pasangan titik terurut (O,M)(O, M) akan dilambangkan dengan

TOMT_{OM}

Perhatikan bahwa jika T=TOMT = T_{OM} , maka T(O)=MT(O)=M, dan TOOT_{OO} adalah identitas.

LATIHAN

Misalkan FF adalah pemetaan bidang ke dirinya sendiri. Kita mendefinisikan titik tetap untuk FF sebagai titik PP sedemikian sehingga F(P)=PF(P) = P.

Jelaskan titik tetap dari pemetaan berikut.

  1. Identitas
  2. Refleksi melalui titik OO tertentu.
  3. Refleksi melalui sebuah garis.
  4. Rotasi yang tidak sama dengan identitas, sehubungan dengan titik OO tertentu.
  5. Translasi yang tidak sama dengan identitas.
  6. Dilasi oleh bilangan r>0r > 0, relatif terhadap titik OO tertentu.

Jawaban:

  1. Semua titik pada bidang adalah tetap.
  2. Pusat refleksi adalah satu-satunya titik tetap.
  3. Semua titik pada garis refleksi adalah tetap.
  4. Pusat rotasi adalah satu-satunya titik tetap.
  5. Tidak ada titik tetap.
  6. Pusat dilatasi adalah satu-satunya titik tetap jika r1r \neq 1. Jika r=1r = 1, dilatasi tersebut adalah identitasnya.

Isometri

Misalkan FF adalah pemetaan bidang ke dirinya sendiri. Kita katakan bahwa FF mempertahankan jarak, atau bersifat mempertahankan jarak, jika dan hanya jika untuk setiap pasangan titik P,QP, Q di bidang, jarak antara PP dan QQ sama dengan jarak antara F(P)F(P) dan F(Q)F(Q). Pemetaan semacam itu juga disebut isometri. (“Iso” berarti sama, dan “metri” berarti ukuran. Lebih praktis menggunakan satu kata daripada dua kata untuk pengertian ini.)

Contoh. Pemetaan konstan yang menghubungkan setiap titik PP dengan titik OO tertentu bukanlah isometri. Dilatasi dengan 2 bukanlah isometri. Mengapa?

Contoh. Misalkan F adalah salah satu dari pemetaan berikut.

Refleksi melalui sebuah titik
Refleksi melalui sebuah garis
Rotasi
Translasi

Maka F adalah sebuah isometri.

Hal ini akan diasumsikan tanpa bukti. Nantinya, ketika kita memberikan definisi untuk pemetaan ini yang bergantung pada koordinat, kita akan dapat membuktikan bahwa pemetaan ini adalah isometri dengan sangat sederhana. Setiap isometri dapat diperoleh dengan kombinasi sederhana dari contoh-contoh yang diberikan di atas..

Catatan. Misalkan FF adalah isometri. Jika P,QP, Q adalah titik-titik yang berbeda, maka F(P)F(P) dan F(Q)F(Q) harus berbeda, karena jarak antara PP dan QQ bukan 0, dan karenanya jarak antara F(P)F(P) dan F(Q)F(Q) juga tidak mungkin 0. Bandingkan dengan sifat DIST 1 dari jarak.

Misalkan SS adalah himpunan titik-titik di bidang datar dan FF adalah pemetaan bidang datar ke dirinya sendiri. Himpunan titik-titik yang terdiri dari semua titik F(P)F(P), untuk semua PP di SS, disebut citra SS di bawah FF, dan dilambangkan dengan F(S)F(S).

Contoh. Misalkan FF adalah refleksi melalui garis LL. Misalkan SS adalah ruas garis: antara dua titik PP dan QQ. Maka bayangan SS di bawah FF adalah ruas garis: antara F(P)F(P) dan F(Q)F(Q). Gambar:

Gambar 15

Dengan notasi kita, kita memiliki

Contoh sebelumnya hanyalah kasus khusus dari sifat umum isometri, yang akan kami nyatakan dalam teorema berikutnya.

Teorema 1. Misalkan FF adalah isometri. Bayangan suatu segmen garis di bawah FF adalah segmen garis. Bahkan, bayangan segmen garis PQ\bar{PQ} di bawah FF adalah segmen garis antara F(P)F(P) dan F(Q)F(Q).

Bukti. (Lihat Gambar 16.) Misalkan XX adalah titik pada PQ\bar {PQ}. Untuk mempermudah, kita nyatakan F(X)F(X) dengan XX’. Karena FF mempertahankan jarak, kita tahu bahwa

d(P,X)=d(P,X),d(X,Q)=rf(X,Q).\begin{align*} d(P, X) = d(P’, X’), &&&&&& d(X, Q) = rf (X’, Q’). \end{align*}
Gambar 16

Dengan SEG 1, kita memiliki

d(P,Q)=d(P,X)+d(X,Q)d(P, Q) = d(P,X) + d(X,Q)

Berdasarkan asumsi pada FF, kita memiliki

d(P,Q)=d(P,X)+d(X,Q).d(P’,Q’) = d(P’,X’) + d(X’,Q’).

Sekali lagi berdasarkan SEG 1, kita menyimpulkan bahwa XX’ harus terletak pada segmen antara PP’ dan QQ’, sehingga membuktikan bahwa bayangan PQ\bar{PQ} terkandung dalam segmen PQ\bar{P’Q’}.

Kita masih harus membuktikan bahwa setiap titik pada segmen PQ\bar{P’Q’} dapat dinyatakan sebagai bayangan di bawah FF dari sebuah titik pada QP\bar{QP}. Misalkan XX’ adalah sebuah titik pada PQ\bar{P’Q’} dengan jarak rr dari PP’. Misalkan XX adalah titik pada PQ\bar{PQ} dengan jarak rr dari PP. Maka F(X)F(X) berada pada jarak rr dari F(P)=PF(P) = P’. Dari sini dapat disimpulkan bahwa F(X)=XF(X) = X’.

Catatan. Dalam pembuktian ini, kita ingin menunjukkan bahwa dua himpunan titik adalah sama. Kita telah mengikuti pola standar, yaitu kita telah membuktikan bahwa masing-masing merupakan bagian dari yang lain. Pola ini akan diulangi nanti.

Akibat. Suatu isometri mempertahankan garis lurus. Dengan kata lain, jika LL adalah garis lurus di bidang datar dan FF adalah isometri, maka F(L)F(L) (bayangan LL di bawah FF) juga merupakan garis lurus. Jika LL adalah garis yang melewati dua titik berbeda P,QP, Q, maka F(L)F(L) adalah garis yang melewati F(P)F(P) dan F(Q)F(Q).

Bukti. Buktinya akan kami serahkan sebagai latihan.

Contoh. Misalkan OO adalah titik perpotongan diagonal sebuah persegi panjang. Jika kita melakukan refleksi melalui OO, maka sudut-sudut yang berlawanan akan saling bersinggungan, dan karenanya sisi-sisi yang berlawanan juga akan saling bersinggungan, seperti yang diilustrasikan pada Gambar 17.

Gambar 17

Misalkan FF adalah pemetaan bidang ke dirinya sendiri. Kita ingat bahwa titik tetap PP dari FF adalah titik sedemikian sehingga F(P)=PF(P) = P. Titik tetap isometri sekarang akan memainkan peran yang sangat penting dalam mendeskripsikan semua isometri. Kita akan menyelidiki secara sistematis isometri tanpa titik tetap, satu titik tetap, dua titik tetap, dan tiga titik tetap, tetapi dalam urutan terbalik. Dalam kasus terakhir ini, kita akan melihat bahwa isometri tersebut haruslah identitas. Kemudian kita mempertimbangkan setiap kasus dengan satu titik tetap yang lebih sedikit, dan menganalisisnya dengan menggabungkan isometri yang diberikan dengan refleksi, rotasi, atau translasi untuk mendapatkan hasil akhir bahwa setiap isometri harus merupakan gabungan dari hal-hal tersebut.

Teorema 2. Misalkan FFadalah isometri. Misalkan P,QP, Q adalah dua titik berbeda pada bidang datar. Anggaplah bahwa keduanya adalah titik tetap, dengan kata lain

F(P)=PdanF(Q)=Q\begin{align*} F(P) = P &&&dan&&& F(Q) = Q \end{align*}

Maka setiap titik pada garis yang melalui P,QP, Qadalah titik tetap dari FF.

Bukti. Kita akan membedakan kasus. Misalkan MM adalah titik pada garis yang melewati PP dan QQ. Kita ingin menunjukkan bahwa F(M)=MF(M) = M.

Gambar 18

Kasus 1. Titik MM terletak pada segmen PQ\bar{PQ}. Misalkan M=F(M)M’ = F(M). Karena FF mempertahankan jarak, maka kita memiliki:

d(P,M)=d(P,M)d(M,Q)=d(M,Q)\begin{align*} d(P, M) = d(P, M’) \\ d(M’,Q) = d(M,Q) \\ \end{align*}

Hingga

d(P,M)+d(M,Q)=d(P,Q)d(P,M’) + d(M’,Q) = d(P,Q)

Berdasarkan SEG 1, ini berarti MM’ terletak pada segmen antara PP dan QQ. Karena

d(P,M)=d(P,M)d(P, M) = d(P, M’)

oleh karena itu, M=MM = M’.

Kasus 2. Misalkan MM tidak terletak pada segmen PQ\bar{PQ}. Misalkan MM terletak pada sinar yang memiliki titik puncak PP dan melewati QQ, tetapi pada jarak dari PP yang lebih besar daripada jarak dari QQ, seperti pada Gambar 19.

Gambar 19

Kemudian

d(P,M)=d(P,M)=d(P,Q)+d(Q,M)=d(P,Q)+d(Q,M)\begin{align*} d(P, M) = d(P, M’) & = d(P, Q) + d(Q, M) \\ & = d(P, Q) + d(Q, M’) \\ \end{align*}

Berdasarkan SEG 1, ini berarti QQ terletak pada segmen antara PP dan MM’. Oleh karena itu P,Q,MP, Q, M’ terletak pada garis lurus yang sama, dan karenanya MM’ terletak pada garis lurus yang melewati P,QP, Q. Karena QQ terletak pada segmen antara PP dan MM’, kita simpulkan bahwa MM’ terletak pada sinar yang memiliki verteks PP yang melewati QQ. Karena

d(P,M)=d(P,M)d(P, M) = d(P, M’)

Oleh karena itu M=M M = M’.

Kasus 3. Kasus ini mirip dengan Kasus 2, ketika MM terletak di sisi lain PP dari QQ. Dalam kasus ini, peran PP dan QQ dibalik, dan pembuktian berlanjut seperti pada Kasus 2, dengan menukar PP dan QQ. Ini mengakhiri pembuktian Teorema 2.

Teorema 3. Misalkan FFadalah isometri. Misalkan P,Q,MP, Q, M adalah tiga titik berbeda yang tidak terletak pada garis lurus. Asumsikan bahwa P,Q,MP, Q, M adalah titik tetap dari FF; yaitu,

F(P)=P,F(Q)=Q,F(M)=M\begin{align*} F(P) = P, && F(Q) = Q, && F(M) = M \\ \end{align*}

Maka FF adalah identitasnya.

Bukti. Misalkan LPQL_{PQ} dan LQML_{QM} adalah garis yang melewati P,QP, Q dan Q,MQ, M, berturut-turut. Misalkan XX adalah sebuah titik. Kita harus menunjukkan bahwa F(X)=XF(X) = X. Kita dapat menemukan garis LL yang melewati XX yang memotong LPQL_{PQ} di titik ZZ, dan memotong LQML_{QM} di titik YY sedemikian sehingga YZY \neq Z. (Sebagai contoh, pilih titik ZZ pada LQML_{QM} yang berbeda dari M,Q,XM, Q, X, dan sedemikian sehingga garis LXZL_{XZ} tidak sejajar dengan LPQL_{PQ}. Misalkan L=LXZL = L_{XZ} dan misalkan YY adalah titik perpotongan LXZL_{XZ} dan LPQL_{PQ}). Situasi ini diilustrasikan pada Gambar 20.

Gambar 20

Berdasarkan Teorema 2, setiap titik pada garis LPQL_{PQ} dan LQML_{QM} adalah tetap. Oleh karena itu, kita memiliki

F(Y)=ydanF(Z)=Z\begin{align*} F(Y) = y && \text{dan} && F(Z) = Z \\ \end{align*}

Sekali lagi berdasarkan Teorema 2, setiap titik pada garis LYZL_{YZ} adalah tetap, dan kita menyimpulkan bahwa F(X)=XF(X) = X. Ini membuktikan teorema kita.

Catatan. Suatu konsekuensi yang sangat penting dari teorema ini akan dinyatakan ketika kita memiliki gagasan tentang invers dari suatu isometri.

Komposisi dari Isometri

Kita dapat mengambil isometri secara berurutan. Misalnya, kita dapat terlebih dahulu memutar bidang dengan sudut 30°30° relatif terhadap titik OO yang diberikan; kemudian merefleksikan melalui garis LL yang diberikan; kemudian memutar lagi dengan sudut 45°45°; dan akhirnya melakukan translasi. Ketika kita mengambil isometri secara berurutan seperti itu, kita mengatakan bahwa kita mengkomposisikannya.

Secara umum, misalkan F,GF, G adalah isometri. Untuk setiap titik PP, mari kita kaitkan titik F(G(P))F(G(P)) yang diperoleh dengan terlebih dahulu mengambil bayangan PP di bawah GG, dan kemudian bayangan titik terakhir ini di bawah FF. Maka kita memperoleh sebuah asosiasi.

PF(G(P))P \mapsto F (G (P ) )

yang merupakan sebuah pemetaan. Bahkan, pemetaan ini adalah sebuah isometri, karena jarak antara dua titik P,QP, Q sama dengan jarak antara G(P),G(Q)G(P), G(Q) (karena GG adalah isometri), dan sama dengan jarak antara F(G(P))F(G(Q))F(G(P)) F(G(Q)) (karena FF adalah isometri). Asosiasi

PF(G(P))P \mapsto F (G (P ) )

disebut sebagai gabungan atau komposit dari GG dan FF, dan dilambangkan dengan simbol

FGF \circ G

sehingga kita dapatkan

(FG)(P)=F(G(P))( F \circ G)(P) = F(G(P))

Contoh. Misalkan OO adalah titik yang diberikan. Misalkan FF adalah rotasi sebesar 90°90° terhadap OO, dan misalkan GG adalah refleksi melalui OO. Maka GFG \circ F adalah rotasi sebesar 270°270°. Kita juga melihat bahwa FFF \circ F adalah rotasi sebesar 180°180°, dan dengan demikian kita dapat menulis

FF=GF \circ F = G

Contoh. Misalkan FF adalah sembarang isometri dan II adalah identitasnya. Maka

FI=IF=F\begin{align*} F \circ I & = I \circ F \\ & = F \\ \end{align*}

Dengan demikian, II berperilaku seperti perkalian dengan 1.

Komposisi rotasi. Jika F,GF, G adalah rotasi, relatif terhadap titik yang sama OO maka FGF \circ G juga merupakan rotasi, relatif terhadap OO.

Misalkan OO adalah titik yang diberikan dan rr adalah bilangan >0> 0. Misalkan P,QP, Q adalah titik-titik yang berbeda dari OO dan berjarak rr dari OO. Maka terdapat rotasi unik GPQG_{PQ} relatif terhadap OO, yang memetakan PP ke QQ (yaitu sedemikian rupa sehingga nilai GPQG_{PQ} di PP adalah QQ).

Kita akan mengasumsikan pernyataan-pernyataan ini tanpa bukti. Keduanya jelas secara intuitif. Dengan menggunakannya, kita dapat menuliskan rumus yang bagus untuk bilangan komposit. Misalkan P,Q,MP, Q, M adalah titik-titik yang berjarak rr dari OO. Maka

GQMGPQ=GPMandGPP=I.\begin{align*} G_{QM} \circ G_{PQ} = G_{PM} && \text{and} && G_{PP} = I. \end{align*}

Bukti. Citra atau gambar PP di bawah komposit GQMGPQG_{QM} \circ G_{PQ} adalah

GQM(GPQ(P))=GQM(Q)=M\begin{align*} G_{QM}(G_{PQ}(P)) & = G_{QM}(Q)\\ & = M \\ \end{align*}

yang sama dengan citra PP di bawah GPMG_{PM}. Berdasarkan asumsi bahwa hanya ada satu rotasi yang memiliki efek ini pada PP. Oleh karena itu kita mendapatkan rumus pertama. Rumus kedua dibuktikan dengan cara yang serupa, dan bahkan lebih sederhana.

Dalam hal angka, kita juga akan mengasumsikan tanpa bukti fakta berikut, yang secara intuitif jelas.

Misalkan x,yx, y adalah bilangan. Misalkan Gx adalah rotasi yang terkait dengan xx. Maka

GxGy=Gx+yG_x \circ G_y = G_{x+y}

Sebagai contoh

G45G45=G90G_{45} \circ G_{45} = G_{90}

Ini berarti bahwa rotasi 45° diikuti rotasi 45° sama dengan rotasi 90°. Selain itu, seperti pada Gambar 22, kita memiliki

Gambar 22

Komposisi translasi. Jika F,GF, G adalah translasi, maka komposisi FGF \circ G juga merupakan translasi.

Diberikan titik P,QP, Q, terdapat translasi TPQT_{PQ} yang unik sedemikian sehingga bayangan PP di bawah TPQT_{PQ} adalah QQ.

Sekali lagi, kita mengasumsikan kedua pernyataan ini tanpa bukti. Sebagai latihan, buktikan rumus-rumus berikut.

TQMTPQ=TPM dan TPP=I\begin{align*} T_{QM} \circ T_{PQ} = T_{PM} &&& \text{ dan } &&& T_{PP} = I \end{align*}

Asosiativitas isometri. Misalkan F,G,HF, G, H adalah isometri. Maka kita memiliki

(FG)H=F(GH)(F\circ G)\circ H = F\circ (G\circ H)

Bukti. Untuk setiap titik P, kita memiliki

((FG)H)(P)=(FG)(H(P))=F(G(H(P)))(F(GH))(P)=F((GH)(P))=F(G(H(P)))\begin{align*} ((F\circ G)\circ H)(P) = (F\circ G)(H(P)) = F(G(H(P))) \\ (F\circ (G \circ H))(P) = F((G\circ H)(P)) = F(G(H(P))) \end{align*}

Ini membuktikan pernyataan sebelumnya, karena kedua peta (FG)H(F \circ G) \circ H dan F(GH)F \circ (G \circ H) memiliki nilai yang sama di PP, dan ini berlaku untuk setiap titik PP.

Kita akan menggunakan notasi yang sama untuk isometri seperti yang kita gunakan untuk angka dalam perkalian. Jika FF adalah isometri,

kita menyatakan FF dengan F2,kita menyatakan FFF dengan F3,\begin{align*} \text{kita menyatakan $F\circ F$ dengan $F^2$,}\\ \text{kita menyatakan $F\circ F\circ F$ dengan $F^3$,} \end{align*}

dan seterusnya. Kita nyatakan dengan FnF^n isometri yang diperoleh dengan mengulangi FF dengan dirinya sendiri sebanyak nn kali.

Contoh. Misalkan GG adalah refleksi melalui titik OO yang diberikan. Maka kita lihat bahwa

G2=identitas=I.G^2 = \text{identitas} = I.

Ini seperti relasi (1)2=1( – 1)^2 = 1. Perhatikan bahwa kita memiliki:

G3=GG4=I...\begin{align*} G^3 = G\\ G^4 = I\\ .\\ .\\ . \end{align*}

sekali lagi dengan analogi pangkat 1-1.

Contoh. Misalkan FF adalah rotasi sebesar 90°90°. Maka:

F2=rotasi oleh 180°,F3=rotasi oleh 270°,F4=rotasi oleh 360°=identitas,F5=rotasi oleh 90°=F.\begin{align*} F^2 = \text{rotasi oleh 180°,}\\ F^3 = \text{rotasi oleh 270°,}\\ F^4 = \text{rotasi oleh 360°}=\text{identitas,}\\ F^5 = \text{rotasi oleh 90°}=F.\\ \end{align*}

Perhatikan sifat siklik yang menarik dari FF, yaitu F5=FF^5 = F.

Jika FF adalah isometri, kita definisikan

F0=IF^0 = I

Kemudian untuk setiap bilangan asli m,nm, n kita memiliki hubungan lama

Fm+n=FmFnF^{m + n} = F^{m} \circ F^{n}

Dengan demikian, komposisi berprilaku seperti perkalian.

Contoh. Misalkan TT adalah translasi sejauh 11 cm ke kanan, dan misalkan PP adalah sebuah titik. Maka P,T(P),T2(P),T3(P),...P, T(P), T^2(P), T^3(P), . . . adalah titik-titik pada garis horizontal, dan Tn+1(P)T^{n+1}(P) berada 11 cm di sebelah kanan Tn(P)T^n(P).

Invers dari Isometri

Misalkan FF adalah sebuah isometri. Yang dimaksud dengan invers (isometri) untuk FF adalah isometri GG sedemikian sehingga

FG=GF=I.F \circ G = G \circ F = I.

Misalkan GG dan HH adalah invers dari FF. Maka

HFG=HI=H.H \circ F \circ G = H \circ I = H.

Berdasarkan sifat asosiatif, sisi kiri sama dengan

HFG=IG=G.H \circ F \circ G = I\circ G = G.

Dengan demikian kita menemukan

G=H.G = H.

Ini adalah jenis pembuktian yang sama yang kita gunakan sebelumnya untuk membuktikan keunikan invers, dan kita melihat bahwa itu berlaku untuk konteks kita saat ini dengan isometri. Kita menyatakan invers dari FF dengan F1F^{-1} jika ada. Asumsikan bahwa inversnya ada. Jika P,QP, Q adalah titik, maka relasinya

P=F(Q)danQ=F1(P)\begin{align*} P = F(Q) && \text{dan} && Q = F^{-1}(P) \\ \end{align*}

setara. Memang, jika P=F(Q)P = F(Q), maka dengan menerapkan F1F^{-1} kita peroleh

F1(P)=F1(P(Q))=Q,F^{-1}(P) = F^{-1}(P(Q))=Q,

dan demikian pula untuk kebalikannya. Jika PP adalah bayangan QQ di bawah FF, maka kita juga mengatakan bahwa QQ adalah bayangan invers PP di bawah FF.

Contoh. Misalkan FF adalah refleksi melalui garis LL yang diberikan. Karena

F2=FF=I,F^2 = F \circ F = I,

kita menyimpulkan bahwa

F1(P)=F.F^{-1}(P) = F.

Contoh. Untuk setiap angka xx, misalkan GxG_x adalah rotasi terkait sebesar xx derajat. Maka

Gx1=Gx,G_x^{-1} = G_{-x},

karena GxGx=G0=IG_{-x} \circ G_{x} = G_0 = I. Misalnya,

G901=G270=G90.G_{90}^{-1} = G_{270} = G_{-90}.

Perhatikan juga bahwa jika G=G90G = G_{90}, maka

G1=G3.G^{-1} = G^3.

Contoh. Misalkan TOMT_{OM} menyatakan translasi yang ditentukan oleh pasangan titik terurut (O,M)(O, M). Ini adalah translasi ke arah sinar dengan titik puncak atau vertex OO, yang melewati MM, dan sedemikian rupa sehingga bayangan titik PP terletak pada jarak dari PP yang sama dengan panjang segmen OM\bar{OM}. Maka TOMT_{OM} memiliki invers, yang tidak lain adalah TMOT_{MO}, yaitu translasi yang berlawanan arah, tetapi dengan jarak yang sama, karena kita memiliki

TMOTOM=I.T_{MO} \circ T_{OM} = I.

Contoh. Misalkan F,GF, G adalah isometri yang memiliki invers F1F^{-1} dan G1G^{-1} berturut-turut. Maka komposisi FGF \circ G memiliki invers, yaitu

(FG)1=G1F1.(F \circ G)^{-1} = G^{-1} \circ F^{-1}.

Ini mudah dilihat. Yang perlu kita lakukan hanyalah memverifikasi bahwa sisi kanan yang dikomposisikan dengan FGF \circ G di kedua sisi menghasilkan identitas. Tetapi kita memiliki

G1F1FG=G1IG=G1G=I,G^{-1} \circ F{-1}\circ F\circ G = G^{-1} \circ I \circ G = G^{-1} \circ G = I ,

dan demikian pula di sisi lainnya. Ini membuktikan pernyataan kita.

Misalkan nn adalah bilangan bulat negatif, katakanlah n=kn = -k, di mana kk bilangan positif. Kita mendefinisikan FF sebagai komposisi F1F^{-1} dengan dirinya sendiri sebanyak kk kali, yaitu

Fk=(F1)kF^k = (F^{-1})^k

Kita juga mendefinisikan F0=IF^0 = I (identitas). Kemudian kita memiliki rumus

Fm+n=FmFnF^{m+n}=F^m \circ F^n

Berlaku untuk semua nilai m,nm, n sebagai bilangan bulat. Hubungan ini analog dengan hubungan yang berlaku untuk pangkat bilangan. Kami tidak menyertakan buktinya, yang bagaimanapun juga mudah.

Contoh. Jika TT adalah translasi 1 cm ke kanan, maka T1T^{-1} adalah translasi 1 cm ke kiri. Jika UU adalah translasi 1 cm ke atas, maka U1U^{-1} adalah translasi 1 cm ke bawah. Demikian juga, T5T^{-5} adalah translasi 5 cm ke kiri, dan T6T^{-6} adalah translasi 6 cm ke bawah.

Dengan menggunakan invers, kita sekarang dapat membuktikan sebuah konsekuensi yang sangat berguna dari Teorema 3 yang memberitahu kita kapan dua isometri sama.

Akibat dari Teorema 3. Misalkan P,Q,MP, Q, M adalah tiga titik berbeda yang tidak terletak pada garis yang sama. Misalkan F,GF, G adalah isometri sedemikian sehingga

F(P)=G(P),F(Q)=G(Q),F(M)=G(M)\begin{align*} F(P) = G(P), && F(Q) = G(Q), && F(M) = G(M) \\ \end{align*}

Anggaplah F1F^{-1} ada. Maka F=GF = G.
Bukti. Pembuktiannya sangat mudah dan akan dibuat sebagai latihan.

Contoh. Misalkan KK adalah garis vertikal dan LL adalah garis horizontal. Misalkan HH adalah refleksi terhadap LL dan VV adalah refleksi terhadap KK. Maka HV=VHH \circ V = V \circ H. Untuk melihat ini, kita hanya perlu memverifikasi bahwa HVH \circ V dan VHV \circ H memiliki efek yang sama pada tiga sudut persegi yang berpusat di titik perpotongan garis-garis tersebut, dan ini jelas.

Gambar 23

Catatan. Akan dibuktikan kemudian bahwa setiap isometri memiliki invers.

Tabel Perkalian

Mari kita sederhanakan notasi dan tulis FGFG sebagai pengganti FG F \circ G, agar analogi dengan perkalian lebih jelas. Jika H,VH, V adalah refleksi sepanjang garis horizontal dan garis vertikal, masing-masing, seperti di atas, maka kita dapat membuat “tabel perkalian” untuk hasil perkalian keempat elemen I,H,V,HVI, H, V, HV, sebagai berikut.

Tabel perkalian

Tabel perkalian ini dibaca seperti tabel perkalian angka. Di tempat baris berpotongan dengan kolom, kita memiliki nilai hasil perkalian elemen paling kiri di baris tersebut, dikalikan dengan elemen paling atas di setiap kolom. Misalnya, hasil perkalian HH dan HVHV adalah

HHV=VHHV = V

karena

H2=IH^2 = I

Demikian pula, hasil perkalian HVHV dan HVHV adalah

HVHV=HHVV=H2V2=I.\begin{align*} HVHV & = HHVV \\ & = H^2V^2 \\ &=I. \end{align*}

Tabel perkalian untuk angka akan terlihat seperti ini.

Karakterisasi Isometri

Hasil utama dari bagian ini adalah bahwa isometri dapat dinyatakan sebagai gabungan dari translasi, rotasi, dan mungkin refleksi. Pertama-tama kita buktikan hasil perantara.

Teorema 4. Misalkan P,QP, Q adalah titik-titik yang berbeda. Misalkan FF adalah isometri yang membuat PP dan QQ tetap. Maka FF adalah identitas, atau FF adalah refleksi melalui garis LPQL_{PQ} yang melewati PP dan QQ.

Bukti. Misalkan MM adalah sebuah titik pada garis bagi tegak lurus dari segmen PQ\bar{PQ}, tetapi tidak terletak pada segmen tersebut, seperti pada gambar berikut.

Gambar 24

Maka

d(P,M)=d(Q,M).d(P, M) = d(Q, M ).

Jika MM ditentukan oleh FF, yaitu jika F(M)=MF(M) = M, maka kita dapat menerapkan Teorema 3 untuk menyimpulkan bahwa FF adalah identitas. Misalkan F(M)MF(M) \neq M. Misalkan M=F(M)M’ = F(M) seperti yang ditunjukkan pada Gambar 33. Karena FF mempertahankan jarak, maka kita memiliki

d(P,M)=d(M,Q).d(P,M’ ) = d(M’,Q) .

Oleh karena itu, berdasarkan konsekuensi dari teorema Pythagoras, titik MM’ terletak pada garis bagi tegak lurus dari segmen PQ\bar{PQ}.

Misalkan OO adalah titik perpotongan PQ\bar{PQ} dan MM\bar{MM’}, yaitu titik tengah antara PP dan QQ. Sekali lagi, karena FF mempertahankan jarak, dan karena OO tetap di bawah FF, maka kita memiliki

d(O,M)=d(O,M).d(O, M ) = d(O, M’).

Oleh karena itu, MM’ adalah refleksi dari MM melalui garis lurus LPQL_{PQ}. Misalkan RR menyatakan refleksi melalui garis ini, sehingga kita memiliki R=R1R = R^{-1}. Kita juga memiliki

R(M)=M dan R(M)=M.\begin{align*} R(M) = M’ && \text{ dan } && R(M’) = M. \\ \end{align*}

Pertimbangkan isometri komposit

RFR \circ F

Hal ini membuat PP dan QQ tetap. Selanjutnya,

R(F(M))=R(M)=M.R(F(M)) = R(M’) = M.

Oleh karena itu, RFR \circ F membiarkan MM tetap. Berdasarkan Teorema 3, kita menyimpulkan bahwa RF=IR \circ F = I. Dengan menggabungkan R1=RR^{-1} = R di sebelah kiri, kita menemukan

RRF=RI,R \circ R \circ F = R \circ I,

dari mana

F=R,F = R,

dan teorema kita terbukti.

Teorema 5. Misalkan FF adalah isometri yang menyisakan satu titik OO tetap. Maka FF adalah rotasi, atau FF adalah rotasi yang dikombinasikan dengan refleksi melalui sebuah garis.

Bukti. Misalkan PP adalah sembarang titik O\neq O. Jika F(P)=PF(P) = P, maka kita berada dalam kasus Teorema 4 dan kita selesai. Misalkan F(P)PF(P) \neq P, dan misalkan F(P)=PF(P) = P’. Karena FF mempertahankan jarak, maka kita memiliki

d(O,P)=d(O,P).d(O , P) = d(O, P’).
Gambar 25

Terdapat suatu rotasi terhadap OO yang memetakan PP pada PP’. Mari kita sebut rotasi ini dengan GG. Kita tahu bahwa G1G^{-1} adalah sebuah rotasi, dan

G1(P)=P.G^{-1}(P’) = P.

Sehingga

G1(F(P))=G1(P)=P.G^{-1}(F(P)) =G^{-1}(P’) = P.

Ini berarti bahwa G1F G^{-1}\circ F membuat PP tetap. Tetapi G1F G^{-1}\circ F juga membuat OO tetap. Oleh karena itu kita dapat menerapkan Teorema 4, dan kita menyimpulkan bahwa G1F G^{-1}\circ F adalah identitas atau refleksi RR. Dalam kasus pertama, kita memiliki

G1F=I, G^{-1}\circ F =I,

dari situ, dengan menyusun dengan G di sebelah kiri, kita menemukan

GG1F=GI=G, G \circ G^{-1}\circ F = G \circ I = G,

dan karenanya

F=GF = G

adalah sebuah rotasi.

Pada kasus kedua, kita menemukan

G1F=R,G^{-1}\circ F = R,

dimana

GG1F=GRG \circ G^{-1}\circ F = G \circ R

dan

F=GR. F = G \circ R.

Ini membuktikan teorema kita.

Teorema 6. Misalkan FF adalah isometri sembarang pada bidang. Jika FF tidak meninggalkan titik tetap, maka FF adalah translasi, atau gabungan translasi dan rotasi, atau gabungan translasi, rotasi, dan refleksi melalui sebuah garis.

Bukti. Misalkan FF tidak meninggalkan titik tetap. Misalkan OO adalah sembarang titik dan misalkan P=F(O)P = F(O). Misalkan TT adalah translasi sedemikian sehingga T(O)=PT(O) = P. Maka T1T^{-1} adalah translasi, dan

T1(P)=O.T^{-1}(P) = O.

Karena

T1(F(O))=T1(P)=O.T^{-1}(F(O)) = T^{-1}(P) = O.

Ini berarti bahwa T1FT^{-1} \circ F membuat OO tetap. Tetapi T1FT^{-1} \circ F adalah isometri. Oleh karena itu, kita dapat menerapkan Teorema 5, dan kita melihat bahwa

T1F=G atau T1F=GR,\begin{align*} T^{-1} \circ F = G && \text{ atau } && T^{-1} \circ F = G \circ R, \end{align*}

di mana GG adalah rotasi dan RR adalah refleksi melalui sebuah garis. Pada kasus pertama, kita temukan

F=TGF = T \circ G

dan pada kasus kedua kita temukan

F=TGRF = T \circ G \circ R

Hal ini membuktikan teorema kita.

Kongruensi

Misalkan S,SS, S’ adalah himpunan titik-titik pada bidang datar. Kita akan mengatakan bahwa SS kongruen dengan SS’ jika terdapat isometri FF sedemikian sehingga bayangan F(S)F(S) sama dengan SS’.

Teorema 7. Lingkaran-lingkaran dengan jari-jari yang sama adalah kongruen.

Bukti. Misalkan lingkaran pertama adalah C(r,O)C(r, O), atau berjari-jari rr, berpusat di OO, dan lingkaran lainnya adalah C(r,O)C(r, O’), berpusat di OO’. Misalkan TT adalah translasi yang memetakan OO ke OO’. Kita tahu bahwa TT mempertahankan jarak. Oleh karena itu, jika P berjarak rr dari OO, maka T(P)T(P) berjarak rr dari T(O)=OT(O) = O’. Dengan demikian, bayangan lingkaran C(r,O)C(r, O) terkandung dalam lingkaran C(r,O)C(r, O’). Kita masih harus menunjukkan bahwa setiap titik pada C(r,O)C(r, O’) adalah bayangan dari sebuah titik pada C(r,O)C(r, O) di bawah TT. Misalkan Q adalah titik yang berjarak rr dari OO’. Perhatikan bahwa titik

P=T1(Q)P = T^{-1}(Q)

berada pada jarak rr dari OO, dan bahwa T(P)=T(T1(Q))=QT(P) = T(T^{-1}(Q)) = Q. Ini membuktikan pernyataan kita.

Latihan: Misalkan S,S,SS, S’, S” adalah himpunan-himpunan di bidang datar. Buktikan bahwa jika SS kongruen dengan SS’, dan SS’ kongruen dengan SS”, maka SS kongruen dengan SS”. Buktikan bahwa jika SS kongruen dengan SS’, maka SS’ kongruen dengan SS.

Jawab: SS kongruen dengan SS’ berarti terdapat isometri F1F_1 sedemikian sehingga F1(S)=SF_1(S) = S’. Lebih lanjut, SS’ kongruen dengan SS” berarti terdapat isometri F2F_2 sedemikian sehingga F2(S)=SF_2 (S ‘) = S”. Tetapi kemudian (F2F1)(S)=F2(F1(S))=S(F_2 \circ F_1)(S) = F_2(F_1(S)) = S”. Karena F2F1F_2 \circ F_1 adalah isometri, maka SS kongruen dengan SS”.

Misalkan S,SS, S’ adalah himpunan titik-titik pada bidang datar. Kita akan mengatakan bahwa SS kongruen dengan SS’ jika terdapat isometri FF sedemikian sehingga bayangan F(S)F(S) sama dengan SS’.

Teorema 8. Dua segmen apa pun yang memiliki panjang yang sama adalah kongruen.

Bukti. Misalkan PQ\bar{PQ} dan MN\bar{MN} adalah segmen dengan panjang yang sama. Misalkan TT adalah translasi yang memetakan MM pada PP. Maka T(N)T(N) berjarak sama dari T(M)=PT(M) = P seperti QQ, karena TT adalah isometri. Oleh karena itu, terdapat rotasi GG terhadap PP sedemikian sehingga G(T(N))=QG(T(N)) = Q. Dengan demikian, kita simpulkan bahwa GTG \circ T memetakan MN\bar{MN} pada PQ\bar{PQ}, sehingga membuktikan teorema kita.

Dua langkah pembuktian dalam Teorema 8 yang berkaitan dengan TT dan GG diilustrasikan pada Gambar 26.

Gambar 26

Perhatikan Latihan di atas. Berdasarkan latihan ini, kita juga dapat merumuskan bukti Teorema 8 sebagai berikut. Kita misalkan TT adalah translasi sedemikian sehingga T(M)=PT(M) = P. Karena citra MN\bar{MN} di bawah TT kongruen dengan MN\bar{MN}, kita direduksi ke kasus ketika P=MP = M, yang sekarang kita asumsikan. Berdasarkan asumsi,

d(P,Q)=d(P,N).d(P, Q) = d(P,N).

Oleh karena itu, terdapat rotasi GG terhadap PP sedemikian sehingga G(N)=QG(N) = Q. Berdasarkan teoreme sebelumnya, kita simpulkan bahwa PN\bar{PN} kongruen dengan PQ\bar{PQ}. Dengan demikian, pembuktian selesai.

Dengan menggunakan bahasa seperti yang kita lakukan, mereduksi pembuktian ke kasus ketika P=MP = M, memiliki sedikit keuntungan yaitu kita menghindari keharusan menulis GTG \circ T komposit secara eksplisit. Kita akan merumuskan pembuktian Teorema 10 dengan cara itu juga. Perhatikan bahwa Teorema 10 adalah kasus kekongruenan klasik dari pembahasan dasar geometri bidang, yang menemukan tempat alaminya dalam sistem kita saat ini.

Teorema 9. Misalkan PQM\triangle PQM dan PQM\triangle P’Q’M’adalah segitiga siku-siku yang sudut siku-sikunya masing-masing berada di QQ dan QQ’. Asumsikan bahwa sisi-sisi yang bersesuaian memiliki panjang yang sama, yaitu:

d(P,Q)=d(P,Q)d(P,Q) = d(P’,Q’)

dan

d(Q,M)=d(Q,M).d(Q, M) = d(Q’, M’).

Maka segitiga-segitiga tersebut kongruen.

Sebenarnya, Teorema 9 adalah kasus khusus dari hasil yang lebih umum, yang dinyatakan dalam teorema berikutnya, dan pembuktiannya akan kami berikan secara lengkap.

Teorema 10. Misalkan PQM\triangle PQM dan PQM\triangle P’Q’M’adalah segitiga yang sisi-sisi yang bersesuaiannya memiliki panjang yang sama, yaitu

d(P,Q)=d(P,Q),d(P,Q) = d(P’,Q’),
d(P,M)=d(P,M),d(P, M) = d(P’, M’),
d(Q,M)=d(Q,M).d(Q, M) = d(Q’, M’).

Maka segitiga-segitiga tersebut kongruen.

Bukti. Terdapat translasi yang memetakan PP pada PP’. Oleh karena itu, cukup membuktikan pernyataan kita ketika P=PP = P’. Sekarang kita mengasumsikan ini, yaitu P=PP = P’. Karena d(P,Q)=d(P,Q)d(P, Q) = d(P, Q’), terdapat rotasi relatif terhadap PP yang memetakan QQ pada QQ’. Rotasi ini membuat PP tetap. Kita direduksi ke kasus ketika

P=PP = P’

dan

Q=Q.Q=Q’.

Kita mengasumsikan bahwa ini adalah kasusnya. Sekarang, M=MM = M’, atau MMM \neq M’. Misalkan MMM \neq M’. Kita ilustrasikan ini dengan Gambar 32.

Gambar 27

Misalkan LPQL_{PQ} adalah garis yang melewati PP dan QQ. Berdasarkan Korolari teorema Pythagoras, dan fakta bahwa

d(P,M)=d(P,M)d(P, M) = d(P, M’)

dan

d(Q,M)=d(Q,M),d(Q, M) = d(Q, M’),

Kita menyimpulkan bahwa LPQL _{PQ} adalah garis bagi tegak lurus dari MM\bar{MM’}. Secara khusus, MM’ adalah refleksi dari MM melalui LPQL _{PQ}. Oleh karena itu, jika kita merefleksikan MM’ melalui LPQL _{PQ}, kita mendapatkan MM. Dengan demikian, kita telah menemukan komposisi isometri yang memetakan PP pada PP’, QQ pada QQ’, dan MM pada MM’. Berdasarkan teorema sebelumnya, kita menyimpulkan bahwa segitiga-segitiga kita kongruen, seperti yang akan dibuktikan.

Catatan. Pada Teorema 7 hingga 10, kita telah membahas bangun-bangun yang terdiri dari segmen garis. Tentu saja, kita mungkin juga ingin membahas jenis bangun lain, misalnya cakram, atau, katakanlah, daerah segitiga yang dibatasi oleh segitiga, atau daerah yang dibatasi oleh persegi panjang. Karena itu, akan bermanfaat untuk memiliki deskripsi daerah-daerah ini dalam bentuk segmen garis. Kita akan menggunakan segitiga sebagai contoh.

Misalkan PQM\triangle PQM adalah sebuah segitiga, dan misalkan SS adalah wilayah yang dibatasi oleh segitiga tersebut. Kita merepresentasikan SS sebagai wilayah yang diarsir pada Gambar 28(a).

Gambar 28

Kita dapat memberikan definisi SS hanya dengan menggunakan konsep segmen garis dengan mengatakan bahwa SS terdiri dari semua titik pada semua segmen garis PX\bar{PX}, di mana XX mencakup semua titik QM\bar{QM}. Melihat Gambar 28 (b) meyakinkan kita bahwa ini memang bertepatan dengan intuisi geometris kita tentang wilayah segitiga. Dengan menggunakan definisi ini, maka sangat mudah untuk melihat bahwa jika FF adalah isometri, maka bayangan F(S)F(S) adalah wilayah segitiga yang dibatasi oleh segitiga yang titik sudutnya adalah F(P),F(Q),F(M)F(P), F(Q), F(M). Lakukan pembuktian secara detail sebagai latihan. Definisi ini juga merupakan definisi yang digunakan baik dalam matematika murni maupun matematika terapan (misalnya ekonomi).

Demikian pula, misalkan RPQR_{PQ} dan RPMR_{PM} adalah dua sinar yang mendefinisikan sudut yang ukurannya kurang dari 180°180°. Sudut tersebut dapat digambarkan sebagai himpunan semua titik pada semua segmen XY\bar{XY}, di mana XX adalah titik pada RPQR_{PQ} dan YY adalah titik pada RPM,R_{PM}, seperti pada Gambar 29.

Gambar 29

Isometri dan luas. Pada bagian selanjutnya, kita akan membahas konsep luas. Kita mungkin tertarik untuk mengetahui bagaimana luas suatu wilayah berperilaku di bawah isometri. Wajar untuk mengambil pernyataan berikut sebagai aksioma dasar.

Misalkan SS adalah suatu daerah pada bidang datar, yang luasnya sama dengan aa. Misalkan FF adalah suatu isometri. Maka luas F(S)F(S) juga sama dengan aa.

Untuk meyakinkan diri kita bahwa ini adalah pernyataan yang masuk akal, kita dapat menggunakan karakterisasi isometri. Jika kita memvisualisasikan rotasi, refleksi, atau translasi, maka intuisi kita memberi tahu kita bahwa, dalam setiap kasus, luas suatu wilayah tetap terjaga di bawah setiap pemetaan ini. Karena setiap isometri merupakan gabungan dari pemetaan tersebut, kita melihat bahwa luas suatu wilayah tetap terjaga di bawah isometri sembarang.

Misalkan A adalah sudut dan F adalah isometri. Maka F(A) adalah sudut yang ukurannya sama dengan ukuran sudut A. Kita dapat melihat ini dari definisi sudut, dengan melihat bagian sudut A yang terletak pada cakram yang berpusat di titik sudut Ay dan menggunakan fakta bahwa isometri mempertahankan luas. Kita telah menggambarkan kasus ketika isometri adalah translasi Tpp> pada Gambar 6-35. Namun, perhatikan bahwa refleksi membalik urutan sinar yang digunakan untuk menghitung ukuran sudut dalam arah berlawanan arah jarum jam. Gambarlah gambarnya.

Gambar 30

Referensi

Serge Lang. (1988). Basic mathematics. Springer. https://doi.org/10.1007/978-1-4612-1027-6

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *